DSLR vs. Prosumer (vs. Mirrorless)

Sebenarnya saya sudah lama ingin membuat blog post tentang perbandingan dan perbedaan berbagai format kamera. Tapi selalu kelupaan dan/atau tidak sempat. Akhirnya saya coba tuliskan di artikel ini, semoga berguna :)

Banyak orang yang pertama kali ingin mencoba hobi fotografi, bingung memilih kamera pertamanya: apakah perlu membeli DSLR, ataukah cukup menggunakan kamera prosumer (atau pocket)? Selain itu, belakangan ini muncul berbagai macam kamera mirrorless yang (bisa dikatakan) berada di antara DSLR dan pocket/prosumer. Tujuan dari artikel ini adalah menjelaskan perbedaannya, secara umum.

Secara umum, perbedaan antara DSLR dan pocket/prosumer adalah di:

  1. Ukuran sensor
  2. Lensa yang fixed vs. yang dapat diganti
  3. Kemampuan dan kemudahan dalam mengubah settingan kamera
  4. Dukungan aksesoris

Mari kita bahas satu per satu:

Ukuran Sensor

Secara umum, DSLR mempunyai ukuran sensor yang (jauh) lebih besar daripada pocket/prosumer. Di antara kamera pocket/prosumer sendiri pun ukuran sensor bervariasi: kebanyakan kamera mempunyai sensor berdiagonal 1/2.3 inci, sedangkan kamera yang lebih “bagus” mempunyai sensor berukuran 1/1.7 inci. Bandingkan dengan DSLR yang mempunyai diagonal sensor sekitar 1 inci. DSLR fullframe lebih besar lagi sensornya, tapi kalau Anda menggunakan kamera fullframe sepertinya sudah mahir dan tidak akan membaca blog ini, hehehe..

Apa saja efek dari perbedaan ukuran sensor ini?

Kerapatan Pixel

Sensor bertugas menangkap cahaya, dan cahaya ditangkap dalam “sumur-sumur” kecil. Ukuran sensor secara tidak langsung menentukan kerapatan (dan ukuran) sumur-sumur ini. Semakin besar sumurnya, maka performa sensor cenderung akan semakin bagus, untuk teknologi yang sama. Karena kerapatan adalah jumlah per area luas, maka jumlah (mega)pixel sensor ybs juga berpengaruh: sensor berukuran yang sama, dengan teknologi yang sama, akan cenderung lebih bagus kualitas gambarnya jika mempunyai megapixel yang lebih sedikit.

Bisa diibaratkan dengan kerapatan penduduk: semakin besar kerapatan/kepadatan penduduk, maka setiap penduduk akan mempunyai ruang yang lebih sempit untuk bernafas dengan lega.

Jika Anda jeli, akan terlihat bahwa saya beberapa kali menekankan “teknologi yang sama”. Hal ini karena perkembangan teknologi memungkinkan kamera dengan kerapatan pixel yang besar akhirnya mempunyai performa yang melebihi kamera dengan kerapatan pixel yang lebih kecil.

Memangnya apa sih pengaruhnya kerapatan pixel (dan teknologi) ke image quality?

Dynamic Range

Dynamic range adalah rentang yang dapat ditangkap kamera, dari yang paling terang hingga yang paling gelap. Bisa dilihat di foto berikut:

Dynamic range: dari daerah paling terang (matahari) hingga daerah paling gelap (bayangan pohon)

Kamera yang rentang DRnya luas akan mampu menangkap detail gelap lebih jauh sebelum hilang menjadi warna hitam datar (seperti daerah bayangan di pojok kiri bawah foto ilustrasi), begitu pula di daerah terang sebelum hilang menjadi warna putih datar (seperti titik cahaya di kanan atas).

Lucunya, biasanya dynamic range yang disimpan dalam format JPEG hanya mempunyai rentang DR 9 EV, sedangkan kebanyakan kamera mampu menangkap lebih dari itu (kamera prosumer ada yang mampu menangkap detail 11EV, bahkan lebih). Hal ini berarti perbedaan dalam hal DR tidak akan begitu terlihat jika kita memotret JPEG di kamera. Perbedaan hanya akan terlihat jika kita memotret RAW untuk diedit (brightnessnya) kemudian.Atau, jika kita mengubah level kontras hasil JPEG kamera (kebanyakan kamera DSLR mempunyai pilihan untuk mengubah kontras hasil JPEGnya).

Bit Depth

Bit atau color depth adalah jumlah informasi yang bisa ditangkap oleh masing-masing “sumur” di sensor tadi. Makin banyak informasi visual yang tersimpan, berarti:

  1. Ruang untuk postprocessing/olah digital lebih lega. Misalnya, jika kita memotret seseorang di sebelah lampu neon berwarna hijau, maka kulit orang tersebut juga akan terpengaruh dan menjadi lebih hijau dari normal. Dengan color depth yang luas, kita bisa mengubah warna kulit menjadi “normal”. Jika color depth tidak mencukupi, maka warna kulit akan terlihat aneh, bahkan jika kesan hijaunya sudah hilang. Tapi (sekali lagi) ini hanya berlaku untuk file format RAW. Jika sudah menjadi JPEG, maka color depth akan “terpotong” mengikuti batasan format JPEG tersebut :)
  2. Bagian yang gelap akan mempunyai warna yang lebih “kaya”. Sebuah mawar merah akan terlihat merah menyala di pencahayaan yang cukup. Namun, jika mawar tersebut (sengaja atau tidak) jatuh di daerah yang underexposed (mendapat pencahayaan yang kurang), maka warna merahnya akan berkurang. Dengan color depth/kedalaman yang lebih dalam, masing-masing “sumur” akan menangkap informasi warna yang lebih banyak, sehingga lebih kaya warna. Hal ini juga akan terlihat walaupun menggunakan format JPEG :)

Noise

Semakin kecil “sumur”, alias semakin besar kerapatan pixel, maka masing-masing sumur mendapat jatah cahaya yang lebih sedikit. Singkatnya, hal ini menyebabkan noise yang lebih tinggi.

Selain kerapatan pixel (yang, sekali lagi, juga dipengaruhi teknologi), ukuran sensor juga mempengaruhi…

Focal Length Lensa

Ukuran sensor yang kecil, cenderung akan membutuhkan focal length lensa yang lebih kecil. Focal length lensa yang lebih kecil (focal length asli, bukan ekivalen) menyebabkan depth of field yang lebih tebal. Ini kabar baik bagi Anda yang sering memotret landscape (karena Anda ingin foto tajam dari depan ke belakang), tapi kabar buruk bagi yang ingin membuat efek bokeh.

Ngomong-ngomong tentang lensa….

Lensa yang Bisa Diganti

Perbedaan mencolok kedua antara DSLR dan prosumer adalah di lensanya. DSLR (dan mirrorless) mempunyai lensa yang bisa ditukar/diganti. Namun, lensa yang kita dapatkan sewaktu membeli kamera (lensa kit) biasanya hanya mempunyai zoom 3x. Kamera pocket biasa mempunyai lensa dengan zoom 4-5x, dan kamera prosumer lazim memiliki zoom yang besar, 10x bahkan hingga 20x.

Setau saya, merancang lensa yang mempunyai rentang zoom yang besar itu sulit. Sulit untuk menjaga kualitas tetap bagus sepanjang rentang zoom yang luas tersebut. Ini juga berlaku di lensa jenis “sapujagad” di DSLR/mirrorless (misalnya 18-200 atau 18-135), biasanya mempunyai kualitas yang kalah jika dibandingkan lensa dengan rentang zoom yang pendek (mempunyai dua lensa 18-55 dan 55-200, misalnya, akan menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus daripada mempunyai satu lensa 18-200.. namun perlu mengganti lensa sesekali).

Saya belum pernah membandingkan sendiri, atau membaca review yang secara langsung membandingkan kualitas lensa DSLR vs. prosumer. Namun jika ingin menebak-nebak, maka lensa DSLR (yang harganya setengah, sama, atau bahkan bisa lebih mahal dari kamera prosumer) sepertinya bisa dipastikan mempunyai kualitas yang kurang jika dibandingkan kamera DSLR :)

Tapi, tidak bisa disangkal, prosumer mempunyai kemampuan untuk men-zoom 20x tanpa perlu mengganti lensa. Hal ini bisa menjadi sangat praktis, terutama jika Anda suka mengambil foto sesuatu di kejauhan.

Mengubah Settingan

Hal ini sebenarnya lebih spesifik ke model kameranya, daripada ke tipe (DSLR vs. prosumer). Secara umum, kamera DSLR memberikan pilihan yang lebih luas bagi kita untuk memilih dan mengubah settingan (segitiga exposure atau settingan lain). Selain itu, seringkali di DSLR mempunyai kontrol yang lebih baik dan lebih mudah untuk mengganti settingan tersebut.

Perbedaan antara pocket dan prosumer sendiri, selain ukuran sensor (yang belum tentu berbeda; ada juga prosumer dengan ukuran sensor kecil seukuran pocket biasa), adalah di kemampuan dan/atau kemudahan mengganti settingan.

Karena hal ini juga dipengaruhi desain model kamera masing-masing, lebih baik memeriksa review atau mencoba sendiri kamera yang ingin Anda pertimbangkan, untuk mencari tahu kemudahan dan kemampuan mengubah setting di kamera tsb :)

Aksesoris

Banyak aksesoris yang dirancang hanya untuk kamera (atau lensa) DSLR. Selain itu, beberapa prosumer juga tidak mempunyai outlet untuk menggunakan aksesoris tertentu (misalnya tidak mempunyai hotshoe untuk memasang flash, atau mempunyai adapter untuk memasang filter).

Bagaimana dengan Mirrorless?

Dahulu kala, tipe kamera dibagi menjadi dua, dengan pembagian yang jelas dan jarak yang jauh: DSLR dan pocket/prosumer.

Seiring majunya teknologi, muncul tipe kamera yang menjembatani kedua tipe tersebut: kamera tanpa cermin refleks, yang membuat ukuran kamera bisa menjadi lebih kecil, dengan ukuran sensor yang lebih besar dari kamera prosumer, bahkan ada yang sama besarnya dengan DSLR.

Sayangnya, tipe kamera mirrorless ini bermacam-macam, baik dari segi ukuran sensor, ketersediaan lensa dan aksesoris, kontrol, dan sebagainya. Saya belum punya waktu untuk membahas semua tipe mirrorless; mungkin lain kali akan saya bahas tipe-tipe mirrorless yang banyak beredar.

Kesimpulan

Prosumer menyediakan kamera dengan lensa yang fleksibel, dan kemampuan untuk mengubah settingan yang lebih canggih daripada kamera pocket, namun dengan image quality yang tidak jauh berbeda.

DSLR menyediakan sensor yang lebih besar, lensa yang (sepertinya) lebih baik, kemungkinan untuk meng-upgrade performa (dengan lensa yang lebih baik ataupun dengan aksesoris), dan kemudahan penggunaan yang lebih baik.. namun dengan harga yang (jauh) lebih mahal juga :)

About these ads