Foto yang bagus, yang seperti apa?

Kalau kita berusaha membuat foto yang lebih bagus, tentunya kita harus tahu dulu dong, foto yang bagus itu seperti apa.

Menurut saya, foto yang ‘dibilang’ bagus itu ada dua jenis:

– Bagus secara teknis. Foto yang bagus secara teknis ini mengikuti teori-teori fotografi; misalnya exposurenya pas, ketajaman cukup, white balance yang benar, dan sebagainya.

– Bagus secara estetis. Foto yang bagus secara estetis ini ya pokoknya yang enak dilihat. Bisa karena keindahannya, bisa karena maknanya, bisa karena hubungan pribadi dengan objeknya, dsb.

Saya cenderung memprioritaskan jenis foto yang kedua: foto yang enak dilihat. Apakah teknis tidak penting? Tentu penting, selama menambah nilai ke estetikanya. Terkadang foto yang tidak tajam pun enak dilihat, bahkan mungkin saja ada foto yang indah justru karena tidak tajam! :-)

Nah, sekarang, faktor-faktor apa sih yang mempengaruhi apakah sebuah foto itu enak dilihat? Menurut saya ada tiga faktor. Saya membahas tiga faktor ini dengan menggunakan analogi masakan, semoga membantu dan tidak malah membingungkan :-)

1. Bahan Mentah

Karena fotografi masih sebatas menangkap ada yang ada di dunia nyata (tidak bisa bikin foto hiu tanpa benar-benar ada hiu, misalnya) tentu saja bahan mentah menjadi faktor yang penting bagi suatu foto.Foto kucing yang lucu punya potensi yang lebih bagus daripada foto kucing borokan. Foto wanita cantik juga punya potensi lebih bagus daripada foto kambing gimbal. Bunga yang tanpa cacat juga akan potensial menghasilkan foto yang lebih bagus daripada bunga yang sudah digigiti serangga.

Meraknya memang dari sononya bagus

Karena itu, jika kita ingin meningkatkan kualitas foto, salah satu cara yang bisa diambil adalah dengan meningkatkan kualitas objek foto.

Meningkatkan kualitas objek foto ini sendiri bisa dilakukan dengan berbagai macam cara:

– Mencari tempat dan waktu hunting yang lebih bagus

– Memilih objek yang lebih bagus untuk difoto

– Mengutak-atik scene sehingga lebih bagus (memindahkan pot yang mengganggu, misalnya, atau memindahkan objeknya ke tempat lain yang lightingnya lebih bagus)

2. Bumbu

Oke, kita sudah memilih ‘bahan mentah’ yang bagus untuk difoto. Tapi masih ada ‘bumbu-bumbu’ yang mempengaruhi hasil akhir foto tersebut. Kalau ‘bahan mentah’ bisa diartikan secara kasar sebagai apa yang difoto, ‘bumbu’ ini bisa diartikan secara kasar sebagai cara kita memotretnya. Keputusan-keputusan yang kita ambil, baik secara teknis atau nonteknis, ikut mempengaruhi hasil akhirnya.

Bumbu-bumbu ini misalnya: bokeh, angle, framing dan komposisi, pemilihan focal length lensa, exposure, distorsi, tone, kontras, dsb.

Suatu foto bisa diperbaiki dengan menambah bumbu yang kurang. Suatu foto dengan bahan mentah yang biasa-biasa saja bisa menjadi foto yang bagus dengan bumbu yang bagus pula. Semakin banyak persediaan bumbu di dapur kita, maka kita punya potensi lebih untuk membuat foto yang bagus.

Di sisi lain, seperti juga dalam masakan, tidak berarti makin banyak/variatif bumbunya maka foto akan semakin bagus. Bumbu harus digunakan secukupnya, dalam porsi yang pas dan cocok dengan bahan mentahnya. Ini semua bergantung pada……

3. Resep

Tertangkap tidak kesan seramnya?

Tujuan kita adalah membuat foto yang bagus dengan sengaja dan konsisten. Karena ada faktor kesengajaan, maka sebaiknya semua keputusan yang kita ambil, baik mengenai bahan mentah ataupun bumbu, dilakukan dengan sengaja dan dengan tujuan memenuhi resep yang ada di bayangan kita.

Apakah kita ingin mengambil foto yang suram? Indah? Agung? Menakutkan?
Bahan mentah dan bumbu-bumbunya tentunya harus cocok untuk mendukung ‘tema’ tersebut.

Sebuah foto bisa menjadi foto yang bagus, walaupun bahan mentah dan bumbunya biasa-biasa saja, karena bahan dan bumbu itu bekerja sama dengan baik. Sebaliknya, foto dengan bahan mentah yang bagus dan bumbu yang bagus juga, bisa jadi foto yang kurang bagus (atau paling tidak: masih bisa diperbagus lagi) karena kurang berpadu dengan kompak.

Antara bahan mentah, bumbu, dan resep ini, tidak ada prioritasnya.

Kita bisa berangkat dari bahan mentah dulu (sedang hunting ke mana, misalnya), lalu memutuskan ingin membuat foto seperti apa dan bagaimana caranya.

Kita bisa berangkat dari resep dulu, ingin membuat foto seperti apa, lalu mencari objek yang pas dan memotretnya dengan cara yang pas pula.

Memang jarang ‘bumbu’ diprioritaskan, tapi bisa jadi ‘bumbu’ ini membatasi bahan mentah dan resep. Misalnya, jika tidak punya lensa tele maka tentu tidak akan memilih untuk memotret burung.

Yang lebih penting adalah: dari foto yang sedang kita amati (baik itu foto kita ataupun foto orang lain), aspek manakah yang berjasa membuat foto itu menjadi sebagus itu, dan aspek manakah yang bisa ditingkatkan untuk membuat foto itu lebih bagus lagi? :-)

Demikian pandangan saya tentang foto yang bagus. Bagaimana menurut Anda? :-)

Selain ini, Anda mungkin tertarik juga dengan artikel tentang:

Bagaimana Menjadi Fotografer yang Jago

Bagaimana Memotret Foto yang Kuat

5 responses to “Foto yang bagus, yang seperti apa?

  1. Ping-balik: Fotografer bukan hanya kameraman « **GM*Photography**·

  2. Ping-balik: Fotografer yang Jago, Seperti Apa? « **GM*Photography**·

  3. “tertangkap tidak kesan seramnya ?? ” pengen banget dibilang seram apa pengen aja ? hahahahaha

    menurut sense saya, ” enggak gan”,
    loohh… karena ?
    karena backgroundnya banyak orang gan, bahkan ada 3 anak smp berjalan woles, dan ada babah nyonye lagi ngobrol diatas kursi mirip kursi betawi

    dan last… itu adalah kucing betina yang kurus yang krg ekspresi
    hahahaha

    no offense gan, hanya hasil mata-mata nakal, lol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s