Jadi fotografer jago, bagaimana caranya?

Fotografer jago. Siapa sih yang tidak ingin jadi jago? Menekuni hobi apapun, pasti ingin jadi jago dong?

Masalahnya, bagaimana cara jadi jago? Pengalaman? Latihan? Menurut saya, pengalaman atau latihan tidak ada gunanya jika sembarangan. Yang sembarangan itu yang bagaimana? Sembarangan itu jika tidak terarah/bertujuan melatih aspek-aspek tertentu.

Nah, jadi aspek apa saja yang membedakan fotografer ‘jago’ dan fotografer ‘pemula’? Menurut saya ada tiga aspek: selera, standard, dan skill.

(Sebenarnya saya kurang suka menggunakan istilah ‘jago’ dan ‘pemula’, tapi istilah-istilah ini singkat dan mengena. Intinya sih, bagaimana kita bisa meng-improve diri kita sendiri, terlepas dari istilah yang digunakan. Setuju?)

1. Selera

Mari coba menggunakan analogi masakan. Selera makan tiap orang berbeda-beda. Makanan favorit Anda, belum tentu saya suka. Begitu juga sebaliknya. Bukan cuma apa yang dimakan, tapi rasa juga. Anda mungkin suka pedas, saya suka manis. Dan sebagainya.

Foto juga begitu. Ada orang yang menyukai foto landscape, ada yang suka foto model, ada yang foto hewan, ada yang human interest. Tapi ini baru tentang objeknya. Ada lagi selera tentang ‘mood’ ato tema tertentu: ada yang suka foto-foto gloomy, ada yang suka yang cerah dan ramai, ada yang suka foto yang mencerminkan keheningan, dsb dsb. Hal ini mempengaruhi foto-foto yang mereka suka, dan secara tidak langsung juga mempengaruhi foto-foto yang dihasilkan.

Jadi apa hubungannya dengan kita yang sedang berusaha jadi fotografer jago?

Mood apa yang tersampaikan?

Menurut saya, untuk menjadi fotografer yang lebih jago, kita harus berusaha menemukan dan mengasah ‘selera’ kita. Sebelum bisa mempunyai selera tertentu, tentunya kita harus bisa membaca suatu foto. Sebelum bisa membuat foto dengan ‘selera’ tertentu, tentunya kita harus mengenali elemen apa saja yang menciptakan suatu ‘mood’ dalam foto.

Salah satu pelajaran tersulit selama belajar fotografi adalah mengubah cara saya melihat foto. Tadinya saya melihat secara logis, “ini foto apa”, kemudian saya mulai belajar untuk melihat foto secara visual.

Semua pixel di suatu foto, dari sudut ke sudut, adalah bagian dari foto itu. Semua pixel itu berinteraksi satu dengan yang lain membentuk garis, warna, tone, gradasi, pola, dan sebagainya. Elemen-elemen ini (garis, tone, dsb) lah yang berfungsi sebagai media komunikasi visual. Mereka lah yang menyampaikan ‘mood’ atau tema foto.

Jika kita ingin menjadi fotografer yang jago, maka kita harus belajar membaca dan menulis ‘bahasa visual’ tersebut. Semakin kita bisa berkomunikasi, akan makin ‘kuat’ foto kita jadinya.

Selera ini tidak berdiri sendiri, dan berpotongan dengan….

2. Standard

Kembali ke analogi masakan. Coba, apa makanan favorit Anda? Spaghetti, misalkan. Bayangkan Anda, karena begitu sukanya dengan spaghetti, makan spaghetti sehari sekali. Hampir bisa dipastikan Anda bosan spaghetti, dan jadi suka makanan lain. Atau, paling tidak, hanya spaghetti tertentu lah yang bisa membuat Anda bilang “enak!”

Seorang fotografer yang ‘jago’, tentunya sudah sekian lama menekuni fotografi, termasuk melihat-lihat foto. Foto yang dianggap ‘bagus’ oleh seorang fotografer pemula, belum tentu masih dianggap bagus oleh fotografer yang lebih ‘jago’. Begitu pula sebaliknya, foto yang dianggap bagus oleh seorang fotografer jago, belum tentu dianggap bagus oleh fotografer pemula, atau orang awam.

Seberapa terganggu (atau bahkan sadar) Anda dengan pantat orang di atas tangga?

Selain masalah selera di atas, ada juga masalah standard. Hal-hal yang ditolerir oleh fotografer pemula, bisa dianggap fotografer jago sebagai hal yang ‘merusak’ foto. Foto yang bisa membuat fotografer pemula berbangga diri, mungkin dianggap ‘anglenya kurang kuat’ atau ada kekurangan-kekurangan lain yang bahkan tidak disadari oleh si fotografer pemula.

Begitu pula saat memotret. Standard yang lebih tinggi akan membuat seorang fotografer sanggup menuangkan waktu dan tenaga yang lebih, demi menghasilkan foto yang sesuai standardnya. Standard yang tinggi akan membuat seseorang rela menunggu lebih lama, mengutak-atik scene sehingga lebih ‘rapi’, menggeser-geser kamera atau badan beberapa milimeter untuk mencari angle atau komposisi yang lebih cantik, dan sebagainya.

Hasil akhirnya, tentu saja, foto yang lebih sedikit kekurangannya, dan lebih kuat. Jelas bukan, bagaimana melatih hal ini akan membuat kita jadi fotografer yang lebih jago?

3. Skill

Dan, tentu saja, skill. Fotografer yang jago tentunya juga fotografer yang bisa melakukan lebih banyak trik, mempunyai teknik yang lebih baik, dan bisa memberikan efek-efek yang lebih ke fotonya.

Tapi, punya skill tinggi tidak menjamin foto-foto yang dihasilkan akan jadi makin bagus. Skill pun harus dikombinasikan dengan selera yang bagus dan standard yang tinggi. Skill hanya sebagai media yang memungkinkan si fotografer untuk mewujudkan foto yang sesuai selera dan memenuhi standardnya. Tidak lebih.

Untungnya, skill ini paling gampang ditingkatkan. Sebagai satu-satunya aspek paling teknis, skill paling banyak dibahas, baik secara formal ataupun informal. Bahkan, bagi beberapa orang, “belajar fotografi” artinya ya belajar skill! Menghafalkan shutter speed, aperture, dan ISO. Tidak salah, memang, tapi kurang lengkap.

Ketiga aspek ini saya bahas agar kita bisa jelas introspeksi dan melihat kira-kira aspek mana yang menjadi kelemahan kita dan/atau dapat ditingkatkan, sehingga kita tidak hanya meraba-raba, berlatih tanpa tujuan yang jelas.

Saya sadar bahwa ‘gear’ terkadang bisa menjadi hambatan. Ekstrimnya, fotografer yang paling jago sekalipun tidak akan bisa memotret jika tidak punya kamera. Begitu pula lensa yang buram akan membatasi kualitas foto yang akhirnya dihasilkan. Tapi karena tulisan ini hanya bertujuan untuk membantu kita meng-improve diri sendiri, aspek gear tidak dimasukkan dalam faktor yang membedakan fotografer ‘jago’ dan ‘pemula :)

Bagaimana menurut Anda? Adakah aspek lain lagi yang membedakan fotografer ‘jago’ dan ‘pemula’?

5 responses to “Jadi fotografer jago, bagaimana caranya?

  1. Ping-balik: belajar motret | regiwicaksono·

  2. Ping-balik: PreWed Site (BETA) » Your Prewedding Photo Solution » Mata Seorang Fotografer, Setajam Apa?·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s