Kamera/lensa: beli yang mana, dan kapan harus upgrade?

Catatan: Ada tulisan lain yang lebih baru yang menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih singkat, silakan klik link ini. Untuk membaca penjelasan yang lebih panjang, silakan terus membaca tulisan ini :)

——————————–

Ada pernyataan yang sering diucapkan dalam fotografi, yang bunyinya kira-kira: “alat tidak penting, yang penting adalah the man behind the gun”. Kamera/lensa tidak penting, yang penting adalah fotografernya.

Benar, tapi tidak sepenuhnya.

Benar, karena kamera sendiri tidak akan menghasilkan foto tanpa fotografer, dan gambar yang bagus timbul karena pilihan-pilihan sang fotografer. Kamera hanyalah sebuah alat, sebuah perantara, yang menerjemahkan rancangan sang fotografer menjadi gambar.

Tidak sepenuhnya benar, karena kualitas perantara juga membatasi potensi kualitas gambar yang dihasilkan sang fotografer. Tanpa kamera, tidak mungkin ada gambar. Tanpa lensa yang tajam, tidak mungkin ada gambar yang tajam. Walaupun alat yang bagus belum tentu menghasilkan gambar yang bagus, tapi alat yang bagus memungkinkan penciptaan gambar yang (lebih) bagus pula.

Karena itu, proses pemilihan alat untuk dibeli dan diupgrade menurut saya cukup penting untuk dibahas di sini. Alat paling penting dalam fotografi adalah kamera, tentu saja. Karena itu pembahasan di artikel ini akan dibatasi kepada satu hal tersebut: kamera, berikut lensanya.

KAMERA

Ilustrasi

Apa peran kamera dalam fotografi? Kamera mempunyai sensor yang menangkap cahaya yang diteruskan oleh lensa. Hasil tangkapan sensor ini lalu diproses oleh prosesor menjadi gambar, entah RAW atau JPEG.

Sensor

Ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan dalam memilih kamera untuk dibeli atau upgrade:

1. Jumlah pixel maksimal

Dinyatakan dalam megapixel (MP), jumlah pixel adalah ukuran file digital yang ditangkap/dihasilkan oleh sensor. Semakin besar jumlah pixel, maka ukuran tiap pixel di sensor akan makin kecil, dan karena itu berpotensi menghasilkan gambar yang lebih detil.

Mengapa cuma ‘potensi’? Karena sensor hanya bisa menangkap detil yang disampaikan oleh lensa; lensa yang tidak tajam tentu tidak akan menghasilkan gambar yang detil, seberapa besar pun megapixelnya. Selain itu, kinerja sensor sebagai penangkap cahaya juga mempengaruhi. Sensor yang jelek, walaupun megapixelnya banyak, tidak akan bisa terlalu detil.

Jumlah pixel juga berguna saat kita ingin mencetak foto kita dalam ukuran yang besar. Kalau hanya untuk sharing online, di mana ukurannya tidak terlalu besar, megapixel yang besar tidak berguna, dan malah berpotensi memenuhi harddisk lebih cepat :)

2. Ukuran sensor fisik (dalam milimeter, bukan pixel)

Semakin besar ukuran sensor secara fisik, maka ukuran per pixel di sensor akan makin besar, dan masing-masing akan menangkap cahaya lebih banyak. Semakin kecil ukuran pixel di sensor, maka masing-masing pixel akan mendapat ‘porsi’ cahaya lebih sedikit juga, sehingga menurunkan performa dynamic range, bit depth, dan ISO, yang dibahas berikut ini. Karena itu, kamera dengan ukuran sensor (dalam milimeter, bukan pixel) yang besar, akan cenderung mempunyai dynamic range, bit depth, dan ISO yang lebih baik pula.

2. Dynamic range

Dynamic range adalah perbedaan brightness antara yang paling gelap hingga paling terang. Jika scene yang dipotret mempunyai dynamic range yang lebih luas/besar daripada dynamic range yang bisa ditangkap kamera, maka kita harus membuat keputusan: menggelapkan exposure untuk menyelamatkan highlight tapi akibatnya daerah-daerah gelap menjadi blok hitam tanpa detil, atau sebaliknya, menambah exposure untuk menyelamatkan shadows tapi daerah terang menjadi blok putih saja.

Hal ini penting untuk foto-foto yang melibatkan daerah yang gelap dan terang sekaligus, misalnya landscape di siang hari. Ada daerah-daerah bayangan dan daerah yang terkena sinar matahari langsung, sehingga selisih brightness nya lebar. Selain itu misalnya untuk foto wedding, di mana pengantin pria mengenakan jas hitam dan pengantin wanita mengenakan gaun putih yang memantulkan sinar matahari.

Perlu dicatat, dynamic range yang ditangkap sensor (RAW) tidak akan terpakai semua di gambar akhirnya (JPEG), karena berbagai alasan. Jadi, jika Anda hanya menyimpan file JPEGnya saja dan tidak memotret menggunakan RAW, faktor ini tidak begitu penting.

3. Color depth/bit depth

Sensor menangkap informasi dari cahaya yang masuk, pixel per pixel. Informasi yang ditangkap di tiap pixel ini disimpan di file sebagai suatu data digital. Nah, color depth/bit depth ini mengacu kepada ukuran informasi yang bisa disimpan di tiap pixel.

Semakin banyak informasi yang ditangkap di tiap pixel, maka makin ‘kaya’ informasi tentang warna di pixel tersebut. Hal ini berarti warna-warna yang berbeda tipis akan mampu disimpan sebagai warna yang berbeda pula. Selain itu, jika kita melakukan modifikasi terhadap warna sebuah pixel (misalnya dengan menerapkan/mengedit White Balance), maka kita mempunyai batas modifikasi yang ‘lebih lega’.

4. ISO performance

Menaikkan ISO berarti menaikkan sensitifitas sensor dalam menangkap cahaya. Naiknya sensitifitas ini juga menaikkan suhu pada sensor, yang berpotensi menimbulkan artifak pada gambar, yang kita kenal sebagai noise. Sensor yang bagus akan mempunyai noise yang lebih rendah pula.

Prosesor

Prosesor berguna mengolah gambar hasil tangkapan sensor. Efeknya pada gambar antara lain:

1. Noise reduction

JPEG yang keluar dari kamera berarti sudah dikenai noise reduction secara otomatis (walaupun di kamera tertentu ada pilihan untuk menonaktifkan fitur ini). Sebenarnya menghilangkan noise sendiri adalah hal yang mudah sekali dilakukan. Hal yang sulit adalah menghilangkan noise tanpa menghilangkan detail!

Salah satu peran dari prosesor yang baik adalah memungkinkan proses noise reduction yang efektif, tanpa menghilangkan detail.

Jika Anda lebih sering memotret RAW dan melakukan noise reduction di komputer, maka fitur ini dapat diabaikan.

2. JPEG conversion

Proses konversi JPEG dari RAW juga dilakukan prosesor kamera. Kecepatan konversi, dan kualitas hasil konversi, tergantung pada kualitas prosesor (dan pemrogramannya).

3. Auto exposure, focus, white balance, etc.

Kamera mempunyai fitur untuk mengitung exposure secara otomatis, bahkan menetapkan shutter speed, aperture, dan ISO yang pas untuk tiap-tiap scene. Prosesor yang baik akan menghasilkan auto exposure yang lebih memuaskan.

Proses autofocus pun diolah oleh kamera: kecepatan dan akurasi autofokus tiap kamera bisa berbeda-beda (walaupun hal ini tergantung lensanya juga). Jumlah dan tipe AF point juga bisa berbeda.

Begitu juga dengan white balance, object tracking, dan fungsi-fungsi otomatis lainnya.

4. Efek

Belakangan makin banyak kamera yang mampu menerapkan efek langsung dalam kamera, sehingga hasil akhir JPEGnya sudah dikenai efek. Mulai dari B&W, miniature mode, panorama mode, hingga in-camera HDR.

Fitur lain

Fitur-fitur kamera yang lain antara lain:

1. Shutter speed

Shutter speed minimal; jika kamera bisa menerapkan shutter speed yang lebih cepat, berarti kita bisa menggunakan aperture yang lebih lebar di situasi dengan pencahayaan yang terang benderang.

Selain itu juga ada burst speed (fps), berapa kali kamera dapat mengambil gambar per detiknya. Fitur ini berguna untuk memotret objek berkali-kali, sehingga kemungkinan mendapatkan ‘momen’ yang tepat semakin besar.

2. Weather shield

Kamera pro biasanya memiliki fungsi weather shield, sehingga kamera tahan terhadap hujan dan percikan air (meskipun tetap tidak bisa ditenggelamkan), debu, dan sebagainya.

Silakan meninggalkan komentar jika ada fitur yang ketinggalan :)

LENSA

Lensa berfungsi memfokuskan cahaya dan menyampaikan ke kamera. Berikut hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelu membeli atau meng-upgrade lensa:

1. Focal length

Focal length mempengaruhi seberapa lebar/sempit field of view yang tertangkap, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi jarak objek yang masih bisa dipotret. Selain itu, focal length mempengaruhi kompresi jarak background dengan objek. Lensa tele akan membuat background terlihat lebih dekat dengan objek. Lensa wide/ultrawide juga menimbulkan distorsi.

2. Bukaan/aperture max

Bukaan maksimal mempengaruhi jumlah cahaya yang bisa melewati lensa. Semakin besar bukaan max, maka kita akan bisa menggunakan shutter speed yang lebih cepat. Efek sampingnya juga DOF akan makin tipis, memungkinkan kita untuk bermain isolasi fokus dan menambahkan bokeh pada gambar.

3. Ketajaman

Sesuai dengan fungsinya untuk memfokuskan cahaya, lensa yang makin baik akan menghasilkan gambar yang makin tajam pula.

4. Kualitas bokeh

Walaupun kuantitas bokeh tergantung pada banyak hal, tapi kualitas bokeh sendiri adalah hasil dari rancangan dan karakteristik lensa. Bokeh yang creamy, atau sebaliknya, swirly, sering menjadi alasan orang membeli atau meng-upgrade lensa.

5. Minimum focusing distance (close-up & macro)

Ada batas minimum terhadap jarak objek yang bisa difokuskan oleh lensa, disebut dengan minimum focusing distance (MFD). Semakin dekat MFDnya, maka lensa tersebut akan bisa dipakai untuk menghasilkan gambar yang lebih besar dan lebih detil. Bahkan ada lensa tertentu yang bisa menghasilkan perbesaran yang signifikan, dan disebut lensa macro.

Apakah artikel ini membantu Anda dalam memutuskan gear yang akan dibeli? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s