Wide angle converter: berguna atau tidak?

Belakangan saya sedang tergila-gila dengan hasil lensa ultrawide. Sayangnya, harga lensa ultrawide tergolong mahal, yang paling murah (Tamron 10-24) seharga kurang lebih 4 juta rupiah, lebih mahal dari lensa manapun yang pernah saya beli sebelumnya.

Karena itu, saya lalu meng-explore kemungkinan menggunakan wide angle converter. Wide angle converter adalah semacam ‘lensa’ tambahan yang dipasang di depan lensa. Seperti filter, namun besar dan berat. Harganya cenderung lebih murah. Converter murahan (Dengan merk yang bukan hanya tidak terkenal, tapi juga tidak dikenal. Sama sekali.) untuk ring filter 58mm seharga kira-kira 350 ribu, untuk ring filter 67mm seharga kira-kira 650 ribu. Yang 67 mm ini jauh lebih mahal selain karena katanya kualitasnya lebih bagus (…agak skeptis sih…) juga lebih lebar, sehingga vignettenya lebih kecil (oke, ini masuk akal). Faktor pengalinya juga lebih besar, 0.45x untuk yang murah dan 0.43x untuk yang lebih mahal.

Lumayan murah sih, tapi saya ragu dengan kualitasnya.

Hingga semalam saya menemukan iklan di FJB Kaskus untuk wide angle converter 0.6x dengan merk Panasonic (terkenal!) dan dengan diameter ring 72mm (wah, mengurangi vignette nih!). Faktor pengali 0.6x juga lebih masuk akal, dan sudah cukup untuk keperluan saya. (0.6x 18mm= 10mm kira-kira, cukup sekali!) Harga? Ditawarkan dengan harga 1,2 juta, harga yang bersedia saya bayar kalau memang kualitasnya oke. Penjualnya juga dari Bandung, jadi bisa COD, coba dulu baru beli. Sip.

Langsung saya janjian beli step up ring 55-72 untuk lensa kit saya, dengan penjual aksesoris di Kaskus yang juga domisilinya di Bandung. Kebetulan penjual aksesorisnya juga jual wide angle converter merk tak dikenal, jadi saya bisa coba-coba juga. Tapi hati tetap ingin beli yang Panasonic.

Step up ring di tangan, saya meluncur ke lokasi COD, dan bersiap-siap untuk punya lensa wide angle dengan harga murah!

Hal pertama yang mengecewakan sekaligus melegakan saya adalah: ternyata ring filternya tidak cukup panjang untuk me’nampung’ converternya! Di belakang ulir converternya ada bagian yang menonjol keluar, mentok ke step up ringnya, sehingga tidak bisa terpasang. Kecewa, batal punya ‘lensa’ ultrawide. Lega, karena jadi punya alasan kuat untuk membatalkan transaksi, karena ternyata kualitasnya tidak sebagus yang saya harapkan.

Berikut perbandingan field-of-view lensa 18mm dengan dan tanpa wide angle converter Panasonic tsb:

Kotak hijau menandakan bidang pandang tanpa converter

Tidak terlihat jauh perbedaannya? Itu memang karena janjinya jauh dari realisasinya. Converter Panasonic yang menjanjikan 0.6x, ternyata setelah dihitung-hitung hanya menghasilkan 0.8x.

Selain itu, performa di pinggir frame juga “tidak begitu bagus”. Berikut hasil crop pojok kiri atas frame, dengan dan tanpa converter:

Crop Pojok, dengan Converer

Without Converter

Crop pojok, tanpa converter

Beda jauh bukan kualitasnya?

Ini yang Panasonic. Bagaimana dengan converter merk takdikenal yang saya coba di penjual step up ring tadi? Sama saja, kalau tidak malah lebih parah. Lucunya, perbesarannya saya hitung-hitung juga sama-sama hanya 0.8x, walaupun “janji”nya 0.43x. Performa di pojok pun jelek, walaupun sulit membandingkan mana yang lebih jelek. Yang jelas, converter dengan ukuran 67mm tersebut masih menyisakan vignette di pojok frame, dan perlu saya zoom hingga FL 20mm agar hilang vignettenya. (Perhitungan 0.8x sudah memperhitungkan zoom ini kok.)

Kalau dibandingkan secara fisik sih yang Panasonic jauh lebih besar (sayangnya tidak sempat saya potret tadi, dua-duanya). Kacanya pun pantulannya warna-warni, menandakan sudah multicoated. Mungkin selisih performanya baru akan terlihat jauh berbeda jika digunakan dalam situasi cahaya yang menantang.

Entahlah, karena saya jelas tidak bernafsu untuk mencoba lagi, apalagi membeli.

And I still haven’t found what I’m looking for….

—-

Tulisan ini hanya bermaksud menceritakan pengalaman saya mencoba dua jenis wide angle converter, beserta hasilnya, dan kesimpulan pribadi saya. Wide angle converter merk lain mungkin berbeda, terlepas dari harga. Saran saya sih, coba dulu saja. Bahkan dengan mata telanjang pun harusnya performanya sudah terlihat; tapi tetap lebih baik bawa kamera dan coba gunakan di kamera sendiri agar lebih yakin. Jangan lupa men-zoom hasil foto untuk melihat lebih dekat performanya.

Apakah sebaiknya Anda membeli wide-angle converter? Itu tergantung Anda sendiri :)

Semoga berguna :)

13 responses to “Wide angle converter: berguna atau tidak?

    • Wah, belum pernah beli tuh.. Cuma pernah nyobain Raynox 250 punya temen, kualitasnya bagus banget, tapi vignetting kalo pake lensa <135mm di APS-C.. Thanks udah mampir :)

  1. Pengalaman yg sama, cuma setelah beli 2nd di tokobagus, merk vivitar… akhirnya menancap permanen di lensa fix manual 50/1.4. Lumayan dapet FL 35-40mm, hehehe

  2. Makasih atas infonya, saya memula yang ingin mendalami landscape, dengan harga lensa yang menguras kantong, maka saya coba cati converter, ternyata begitu ya hasilnya. Ngumpulin uang buat beli 10-20mm aja lah. Hehehe…

  3. hhhhmmmm… jadi ragu juga mau beli yang converter, padahal lagi brosing nih. btw pakenya kamera n lensanya apa pak, waktu ngetesnya? karena stau saya converter ini cuman efektif kalo dipake sama lensa 50mm ato 55mm dibawah itu kurang bagus, dan akan lebih bagus jika lensa fix. CMIIW.

      • Memang benar dptnya klau pake fix jatuhnya hampir sma pakai kit. Tpi kalau penggunaan video akan sangat bermanfaat dalam kondisi gelap yg tidak bisa permainkan shutter speed agar video lebih terang. Dan untuk mengatasi ruangan sempit agar video lebih wide dan terang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s