Bagaimana membuat foto yang kuat, tanpa jamu

Tanpa bermaksud mengejek apalagi sok jago, saya banyak menemukan foto yang kurang bagus karena foto tersebut ‘lemah’. Mengapa saya bilang ‘lemah’? Karena foto tersebut tidak menunjukkan mengapa sang fotografer memilih untuk memotret objek tersebut.

Bukan berarti fotografernya tidak punya alasan atau hanya sembarangan saja. Yah, memang mungkin seperti itu. Tapi bisa jadi juga fotografernya sebenarnya punya alasan, hanya saja alasan tersebut tidak tersampaikan dengan baik lewat fotonya.

Inilah salah satu kesulitan fotografi. Kita, fotografer, melihat objek dan situasi sekelilingnya secara nonstop, seperti video. Sedangkan yang kita sampaikan dalam foto kan hanya sekelumit dari pengamatan kita itu. Secara waktu, foto membekukan kenyataan, hanya menangkap dan menyampaikan apa yang terlihat selama shutter speed yang kita pilih. Secara ruang (dan bidang pandang), foto hanya menyampaikan cuplikan kenyataan yang muat dalam bidang pandang lensa (dan sensor).

Karena itu, kita harus selalu berusaha dengan sengaja memasukkan/menunjukkan “apa sih yang membuat kita berpikir/merasa bahwa hal ini layak diabadikan”?

Apa kira-kira alasan dan tujuan saya memotret ini? Kalau Anda bingung, berarti saya gagal membuat foto yang kuat. Tidak apa-apa. Terus belajar deh :)

Sepanjang saya membongkar-bongkar ingatan dan pengalaman saya, alasan dan tujuan memotret bisa terdiri dari salah satu atau (lebih baik) kombinasi dari hal-hal berikut ini:

– Menunjukkan keindahan, sesuatu yang enak dilihat

– Mengundang emosi atau pemikiran tertentu

– Unik, jarang, dan/atau berbeda dari yang biasanya, baik dari segi objeknya ataupun cara penyajiannya

Hal-hal di atas tidak hanya harus diingat saat pemilihan objek, tapi juga pemilihan cara memotret, hingga olah digital. Jika Anda melihat anak kecil yang menggemaskan, jangan sampai Anda menggelapkan foto itu saat olah digital, malah suram jadinya. Jika Anda berusaha menyampaikan semangat kerja keras seorang bapak, jangan sampai Anda memotret saat bapak tersebut sedang bengong. Jika Anda berusaha menunjukkan kecantikan seorang model, akan lebih baik kalau perhatian kita tidak terpecah oleh orang-orang yang lalu-lalang di background. Dan sebagainya :)

Intinya, kita harus berusaha supaya apa yang terlihat di dalam frame foto, mulai objek utamanya, objek-objek di sekelilingnya, hingga nuansa keseluruhan fotonya (tone, DOF, angle, komposisi, dsb), harus bisa menyampaikan maksud/tujuan kita. Sekuat mungkin.

Bagaimana, tepatnya, caranya? Nah, pertanyaan bagus. Saya masih belum bisa memberikan jawaban yang cukup teknis untuk bisa dituliskan. Semoga, semakin dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman saya, hal ini nanti bisa saya rumuskan. Sekarang, saya hanya bisa mengajak untuk menggunakan selera kita masing-masing.

Bagaimana menurut Anda? Apakah ada syarat lagi agar sebuah foto menjadi foto yang kuat? Silakan meninggalkan komentar..

2 responses to “Bagaimana membuat foto yang kuat, tanpa jamu

  1. Ping-balik: Fotografer yang Jago, Seperti Apa? « **GM*Photography**·

  2. Ping-balik: FOTO YANG BAGUS, YANG SEPERTI APA? | Thanks For Visit·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s