Rule of thirds dan Komposisi

Salah satu hal yang perlu kita perhatikan dalam memotret adalah komposisi. Apa itu komposisi? Gampangnya, komposisi adalah bagaimana kita mengatur objek-objek atau elemen-elemen yang ada di dalam foto.

Salah satu hal yang paling sering kita hal tentang komposisi adalah aturan “rule of thirds“. Daripada panjang-panjang dijelaskan melalui tulisan, akan lebih mudah kalau digambarkan:

Objek disarankan untuk berada di salah satu dari empat garis atau perpotongannya

Di gambar itu terlihat mengapa aturannya disebut rule of thirds (aturan sepertiga). Kita disarankan untuk meletakkan objek utama foto (sering juga disebut point of interest / POI) pada sepertiga frame: sepertiga atas, sepertiga bawah, sepertiga kanan, sepertiga kiri, atau kombinasinya. Atau, jika mengacu pada gambar di atas: ikuti saja garisnya :)

Aturan ini begitu terkenal dan dipatuhi, hingga seolah-olah menjadi aturan baku dan mutlak, yang tidak boleh dilanggar. Tapi apakah benar aturan ini tidak boleh dilanggar? Kalau menurut saya sih boleh.

Saya bahkan menemui kesulitan saat mencari foto saya yang menuruti aturan sepertiga ini secara baku. Kebanyakan foto saya ternyata POInya terletak kira-kira di antara garis sepertiga dan titik tengah foto, beberapa juga ada yang (kira-kira) di garis/titik seperempat foto, bahkan ada yang lebih ke pinggir lagi. Mungkin selera saya perlu diasah lagi, atau mungkin rule of thirds tidak benar-benar mengikat baku :)

Anyway, kembali ke rule of thirds. Mengapa kira-kira kita lebih enak melihat gambar (tidak cuma foto, lho, lukisan juga katanya mengikuti aturan ini) yang POInya terletak di sepertiga frame? Menurut pendapat saya, rule of thirds sebenarnya mengikuti beberapa prinsip sebagai berikut:

1. Jangan nanggung.

Foto yang mengandung elemen-elemen yang nanggung akan terlihat kurang enak dipandang. Kadang memang ada foto-foto tertentu yang bagus juga dibuat dead center (komposisi di mana POI diletakkan persis di tengah frame). Namun, kalau salah menyeimbangkan sedikit, akan terlihat nanggung. Karena itu, lebih baik ditaruh di sepertiga sekalian daripada (berusaha) di tengah, daripada nanggung.

2. Setiap objek punya berat.

Secara tidak sadar, semua objek di frame kita anggap sebagai ‘benda’, yang mempunyai ‘berat’. Inilah yang harus kita seimbangkan. Jika suatu foto mempunyai banyak elemen di sisi kanan dan tidak ada elemen di sisi kiri, maka foto tersebut akan terasa timpang. Sebagai benda yang mempunyai ‘berat’ paling tinggi (walaupun ukurannya belum tentu paling besar), maka peletakan POI penting bagi keseimbangan komposisi.

Ini salah satu hal yang membuat tidak semua frame bisa dikomposisi secara dead center. Walaupun POI (yang notabene paling berat) diletakkan di tengah, elemen-elemen lain dalam foto mungkin menggerakkan titik keseimbangan sedemikian rupa, sehingga nanggung.

Efek samping dari prinsip ini adalah: di titik mana Anda meletakkan POI, sebaiknya Anda punya sesuatu untuk mengimbangi ‘berat’ POI tersebut di sisi frame yang lain. Di contoh foto saya di atas, pegunungan di background terlihat lebih besar di sisi kiri, sedikit menyeimbangkan POI yang terletak di sepertiga kanan. Selain itu ada satu faktor lagi:

3. Berat setiap objek tidak terbatas pada objek itu sendiri

Deskripsi ini mungkin kurang tepat, atau kurang lengkap. Tepatnya, kita melihat beberapa objek sebagai objek diam, dan objek lain (dengan karakteristik tertentu yang sulit dirumuskan) mempunyai eksistensi yang memancar keluar dari batasan objek tersebut.

Bingung ya? Mungkin lebih baik diberi contoh langsung saja. Dalam contoh foto saya di atas, patung Buddha tersebut terlihat memandang ke arah kiri. Karena itu, kita akan condong melihat berat patung tersebut juga ‘menjulur’ ke kiri. Karena itu, walaupun patungnya terletak di sepertiga frame, tapi sebenarnya ‘berat’ patung itu kita lihat lebih ke kiri lagi.

Untuk membuktikan hal ini, coba amati gambar di bawah ini:

Komposisi nanggung dan "mentok"

Gambar di atas juga menuruti aturan rule of thirds, lho. Kepala Buddha terletak di sepertiga atas dan kiri. Namun komposisinya tetap terasa mentok.. Kenapa? Karena ‘lintasan’ pandangan matanya membentur ujung frame. Tidak ada ruang untuk bergerak.

Bandingkan dengan foto di bawah:

Lebih lega, bukan?

Nah, karena prinsip ketiga ini, setiap objek (termasuk POI) sulit untuk ditentukan tepatnya di mana “pusat berat”nya. Sulit juga untuk menentukan di mana POI harus diletakkan jika ingin menggunakan komposisi dead center. Kalau elemen-elemen di fotonya gampang untuk diseimbangkan sih bisa saja dead center.

Contoh dead center

Lalu, apakah harus rule of thirds? Apakah harus sepertiga? Tidak. Yang penting tidak nanggung, dan tetap seimbang :)

Ini menurut saya lho ya. Bagaimana pendapat Anda? :)

One response to “Rule of thirds dan Komposisi

  1. Ping-balik: Fotografer yang Jago, Seperti Apa? « **GM*Photography**·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s