Enaknya beli lensa atau upgrade kamera, ya?

(Tulisan ini saya edit tanggal 26 April, menambah saran pribadi dari saya tentang prioritas pengalokasian dana.)

Banyak orang yang bertanya kepada saya, ketika akan membeli kamera: enaknya beli kamera X dan lensa yang bagus (atau banyak), atau beli kamera Y yang satu/dua level di atas kamera X, tapi hanya lensa kit? Selain itu juga banyak yang bingung antara meng-upgrade kamera atau melengkapi/meng-upgrade lensa. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tapi sebentar. Sedikit pengakuan terlebih dahulu: saya sebenarnya berniat menulis artikel ini dari beberapa hari yang lalu. Namun, saat menulis artikelnya, perhatian saya terganggu, sehingga akhirnya tulisan yang saya hasilkan kurang lengkap, dan malah tidak menjawab hal yang tadinya ingin saya jawab.

Jadi pertanyaan tersebut akan saya coba jawab di sini.

Ada satu hal yang perlu dijawab sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas: apa tujuan Anda? Apakah Anda berusaha mengisi suatu kekurangan dalam fotografi Anda, atau Anda berusaha menambah kapabilitas baru? Atau, dengan kata lain: Anda sedang berusaha problem solving atau (istilahnya) naik level?

Jika sedang berusaha problem solving: masalahnya apa? Hal apa yang menghambat atau mengurangi kualitas fotografi Anda?

Jika sedang berusaha naik level: sticking pointnya di mana? Dengan kata lain: satu hal apa yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kualitas foto-foto Anda?

Jawaban dari pertanyaan tersebut lah yang perlu dijadikan petunjuk; membeli kamera ataupun lensa, hendaknya bisa melakukan hal yang ingin Anda achieve tersebut. Pastikan juga bahwa masalah Anda di peralatan, dan bukan di cara motretnya.

Nah, lalu, apa yang dibeli? Menurut pengetahuan dan pengalaman saya…..

Anda sebaiknya membeli kamera, jika ingin memperbaiki:

– Dynamic range, color depth, atau performa high ISO / low light

– Mencari kecepatan operasi yang lebih tinggi, termasuk burst speed (tapi, pastikan dulu bahwa bukan memory card yang menjadi penghambat). Termasuk juga tombol yang lebih banyak dan/atau top-mounted LCD, untuk mempermudah mengubah settingan kamera.

– Mencari fitur weather seal (tahan percikan air, misalnya)

– Jumlah, akurasi, dan kecepatan AF point dalam mencari fokus (tapi lensa juga turut andil dalam menentukan akurasi dan cepat/lambatnya autofokus.. Pastikan masalahnya bukan di lensa Anda :))

Anda sebaiknya membeli/mengupgrade lensa, jika ingin memperbaiki:

(Catatan: pastikan Anda sudah menggunakan lensa yang sekarang dengan optimal, sebelum memutukan untuk upgrade/beli lensa lagi)

– Menambah focal length lensa yang dimiliki. Hal ini lebih cocok dilakukan dengan membeli lensa lagi, alih-alih upgrade. Lensa dengan rentang FL yang lebih luas, biasanya mempunyai kualitas yang lebih rendah, karena sulitnya mengatur elemen-elemen optis untuk menghasilkan rentang FL yang luas tersebut. Kalau yang kualitas bagus biasanya mahal, sehingga menurut saya pribadi tidak worth it untuk sekedar mencari kepraktisan (tidak perlu copot-pasang lensa).

Lebih baik beli lensa lagi yang FLnya melengkapi FL lensa yang kita sudah punya. Kalau sudah punya 18-55, misalnya, bisa mempertimbangkan 55-250 atau 55-200 atau 70-300, dengan berbagai pertimbangan. Misalnya.

– Menambah aperture maksimal. Aperture yang besar adalah hal yang diinginkan dalam fotografi, karena mempunyai banyak efek positif: kemampuan untuk shoot di kegelapan dengan shutter speed yang (lebih) cepat, serta kemampuan untuk membuat DOF yang tipis sehingga menciptakan bokeh.

Lensa yang banyak dicari untuk memenuhi peran ini adalah lensa 50/1.8 (yang harganya relatif murah, karena lensa ini termasuk salah satu varian lensa pertama — dahulu kala, kamera dipasangkan dengan lensa 50mm sebagai lensa kit).

– Ketajaman

– Kontras dan saturasi warna (tapi biasanya hal ini memerlukan lensa yang jauh lebih mahal, seperti lensa L pada Canon atau lensa G/Carl Zeiss pada Sony.. Kalau uang belum cukup, mendingan pakai olah digital saja dulu :))

– Mencari efek fisheye, khusus lensa fisheye tentunya :)

– Ingin memperbaiki kualitas/estetika gambar yang tergantung pada rancangan lensa, misalnya: estetika bokeh, color fringing, dsb.

Atau bisa dipertimbangkan juga untuk membeli aksesoris lain:

Aksesoris lain juga bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas foto kita, misalnya:

– Tripod, bisa digunakan untuk menstabilkan kamera saat membuat foto slow speed; Anda bisa menciptakan efek slow speed/motion blur, atau menggunakan ISO yang lebih rendah (kalau objek Anda tidak bergerak).

– ND filter, digunakan untuk ‘mempergelap’ sehingga Anda bisa menggunakan shutter speed yang lebih lambat, misalnya untuk menciptakan efek slow speed pada siang hari

– GND filter, digunakan untuk menggelapkan sebagian dari frame. Biasanya digunakan untuk menggelapkan bagian atas frame, sehingga bagian langitnya tidak overexposure, dan lebih harmonis dengan exposure pada bagian daratan.

– IR filter, digunakan untuk menangkap gambar dengan efek infrared. Efek negatifnya, shutter speed jadi jauh lebih lambat.

– Peralatan makro (macro extension tube, reverse ring, macro filter, etc.), untuk mengambil foto makro.

– Flash dan peralatan cahaya lain: diffuser, bouncer, reflektor, trigger, dsb. Berguna untuk menambah dan/atau memperbaiki pencahayaan.

Pendapat pribadi saya:

Pembelian gear tentunya tergantung pada kebutuhan Anda. Keindahan foto juga memang tidak sepenuhnya bergantung pada peralatan yang kita gunakan. Tapi, sebagai garis besar, saya cenderung menyarankan prioritas pembelian sebagai berikut:

(Maaf, saya asumsikan kita sedang membicarakan peralatan DSLR. Jika Anda tidak menggunakan DSLR, silakan skip ke bagian yang bersesuaian :))

1. Lensa kit. Harganya murah (terutama kalau dibeli sepaket dengan kameranya). Kualitas bagus, lebih dari lumayan. Fleksibel, bisa wide angle (18mm) hingga normal (55mm). Sebuah pilihan paling efisien untuk berlatih sedemikian banyak hal, dengan biaya yang sedemikian murah.

2. Lensa 50/1.8 (atau semacamnya), terutama jika Anda menggunakan merk yang lensa 50/1.8nya tidak terlalu mahal. Bisa digunakan di kondisi low light dengan lebih baik. Bisa menciptakan bokeh, yang biasanya banyak dicari. Ini satu alat yang memberikan bumbu yang signifikan ke rak dapur Anda :)

3. Tripod. Jika lensa 50/1.8 dirasa terlalu mahal, tripod juga bisa menjadi pilihan yang bijak. Anda bisa menciptakan efek motion blur dan/atau menggunakan ISO rendah (noise lebih sedikit) dengan bantuan tripod. Akan lebih baik jika dikombinasikan dengan..

4. Filter, terutama filter ND dan/atau GND,  untuk membantu landscaping dan/atau memotret dengan slow speed di siang hari. Tidak tertutup kemungkinan juga bermain-main dengan IR filter.

Sebagai alternatif untuk poin nomor empat (atau bahkan tiga), bisa juga dipertimbangkan macro extension tube atau reverse ring. Alat-alat dengan biaya relatif murah yang bisa membantu Anda mengambil foto-foto makro, tanpa lensa khusus makro.

5. Lensa tele zoom, terutama yang ada fitur IS/VR/semacamnya (kecuali kamera Anda mempunyai in-body image stabilization). Harga lensa ini lumayan mahal dibanding pilihan-pilihan sebelumnya (kecuali Nikon, yang harga lensa 50/1.8nya tidak jauh berbeda dengan harga lensa telenya). Memungkinkan Anda memotret hal-hal yang lebih jauh, dan/atau menggunakan perspektif tele dalam memotret. Overall, menambah pilihan objek foto, tapi tidak banyak menambah bumbu.

6. Upgrade kamera. Setelah Anda memaksimalkan kemampuan kamera Anda yang lama (dengan membeli hal-hal dengan prioritas lebih tinggi di atas, notabene tentunya sesuai dengan kebutuhan), baru saya sarankan untuk melirik pilihan upgrade kamera. Harganya pun jauh lebih tinggi dibanding opsi-opsi di atas.

Prioritasnya paling rendah karena mengupgrade kamera tidak banyak mengubah foto, kecuali di aspek performa lowlight/high ISO (itu pun belum tentu signifikan). Faktor lain seperti kecepatan pengoperasian, weather shield, dsb, saya rasa belum akan terpakai sebelum Anda mencapai tingkat keahlian tertentu. Tingkat keahlian tertentu tersebut dicapai dengan meng-explore kamera yang sudah ada, termasuk dengan menambah alat-alat seperti di atas.

7. Upgrade lensa. Upgrade lensa menduduki posisi kira-kira sama prioritasnya dengan upgrade kamera (tergantung kebutuhan Anda). Harga sama-sama relatif paling tinggi, dengan perbedaan yang sama-sama relatif kecil. Anda toh sudah punya lensa yang sama, tapi Anda mengeluarkan uang untuk mendapatkan lensa dengan kualitas yang lebih bagus. Pertanyaannya adalah: apakah perbedaan antara lensa lama dan lensa baru layak dibayar dengan harga sekian?

Hanya Anda yang bisa menjawab :)

Harap dicatat, ini hanya pendapat pribadi saya saja. Semuanya tentunya kembali kepada kebutuhan dan gaya Anda dalam fotografi. Jadi, sudah memutuskan akan membeli apa? Semoga keputusannya tepat dan bisa melejitkan kualitas foto-foto Anda, ya. Keep shooting! :)

One response to “Enaknya beli lensa atau upgrade kamera, ya?

  1. Post yang bagus dan bermanfaat :)

    fotopreneur.wordpress.com

    Fotopreneur ada untuk mengidentifikasi peluang baru, bahwa di dalam perubahan ini terdapat sudut pandang baru untuk penggemar fotografi, pemilik kamera, pecinta foto dan siapapun yang ingin memperoleh hasil dari bidang fotografi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s