Filter, untuk apa (saja)?

Salah satu hal yang membingungkan saya waktu pertama belajar fotografi dulu adalah filter (sekarang juga masih sambil belajar sih.. namanya juga blajarmotret.wordpress.com :D). Begitu banyak varian filter, dengan harga yang bermacam-macam (belum lagi varian dalam satu macam). Mana yang perlu dibeli?

Karena itu saya coba rangkumkan apa yang saya ketahui tentang berbagai macam filter di sini. Semoga berguna :)

Hal pertama yang perlu diingat tentang filter adalah bahwa semua cahaya yang masuk ke lensa dan kamera, melalui filter terlebih dahulu. Karena itu, filter berpotensi mengubah, bahkan mengurangi karakteristik dan kualitas foto yang dihasilkan. Hal ini perlu diingat. Jangan sampai beli lensa berjuta-juta untuk mendapatkan kualitas elemen optis yang jempolan, tapi ditutupi dengan filter seharga puluhan ribu. Agak mubazir rasanya :)

Efek negatif penggunaan filter yang mungkin terjadi, antara lain:

– Ghosting dan flare. Ghosting dan flare sama-sama terjadi karena permukaan belakang filter (yang menghadap sensor) memantulkan cahaya. Ghosting terjadi ketika cahaya yang dipantulkan sangat terang dibandingkan keadaan sekitarnya, sehingga terlihat jelas sebagai obyek bayangan di foto. Jika Anda malam-malam memotret lampu di sudut kiri atas frame, dan sekitarnya gelap, maka ghosting akan terjadi di sudut kanan bawah frame. Flare secara umum adalah pantulan cahaya yang merata, yang membuat foto menjadi kehilangan kontras dan warnanya pudar. Jika cahaya sangat kuat, bahkan bisa menimbulkan obyek sendiri di foto. Hal ini tidak selalu merugikan, dan malah bisa digunakan sebagai ekspresi kreatif.

Ada semacam lingkaran cahaya di sebelah kanan burung hantu. Ini sering disebut sebagai “flare”.

– Pengurangan ketajaman

– Pengurangan kontras dan/atau saturasi

dsb

Nah, setelah mengingatkan efek negatif yang mungkin terjadi karena menggunakan filter, mari mulai membahas jenis-jenis filter dan gunanya masing-masing.

1. Filter UV/ultraviolet

Di jaman fotografi film, hasil foto sering terganggu oleh cahaya ultraviolet yang (ternyata) bisa ditangkap juga oleh film. Karena itu, diciptakanlah filter UV untuk menyaring/menghilangkan spektrum cahaya ultraviolet yang masuk ke lensa.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan, di era digital sebenarnya tidak perlu menggunakan filter ultraviolet, karena sensor digital tidak sensitif terhadap spektrum UV. Ada lagi yang menyatakan, cahaya ultraviolet tidak banyak mengganggu di daratan rendah. UV mulai terlihat dan mengganggu di ketinggian. (Jika terganggu oleh sinar UV, maka foto akan terlihat seperti berkabut tipis)

Terlepas dari pendapat-pendapat di atas benar atau tidak, kebanyakan orang menggunakan filter UV lebih sebagai pelindung lensa. Saya termasuk yang tidak pernah menggunakan filter UV, dan memang sepertinya tidak merasa ada kabut di foto-foto saya :)

2. Filter IR/infrared

Kebalikan dari filter UV yang berfungsi untuk menghilangkan spektrum ultraviolet, filter IR justru berfungsi menghilangkan spektrum cahaya selain inframerah/infrared/IR. Filter IR ini ada bermacam-macam, tergantung frekuensi/spektrum cahaya yang dihilangkan. Yang paling sering ditemui adalah filter IR 680 nm dan 720 nm. Disebut filter 680 nm karena filter tersebut menghilangkan spektrum cahaya di bawah 680 nm, sehingga hanya spektrum 680 nm ke atas yang sampai ke sensor.

Karena banyak spektrum cahaya yang dihilangkan, maka menggunakan filter IR mempunyai efek gelap. Shutter speed yang dibutuhkan, bahkan di siang terik sekalipun, bisa mencapai beberapa (belas!) detik. Filter 720 lebih gelap daripada filter 680, karena lebih banyak spektrum yang disaring. Tapi, setahu saya, filter 720 menghasilkan gambar yang lebih “unik”.

3. Filter CPL / circular polarization

Filter ini agak sulit untuk dipahami (paling tidak untuk saya) karena membutuhkan pemahaman tentang gelombang cahaya. Saya akan coba jelaskan sejauh pemahaman saya :)

Filter CPL mempunyai efek menyaring cahaya yang mempunyai derajat kemiringan getaran tertentu. Cahaya yang mempunyai derajat kemiringan tertentu biasanya adalah cahaya pantulan. Karena itu, efek paling berguna dari filter CPL adalah mengurangi pantulan (kecuali dari permukaan yang terbuat dari logam).

Pantulan di air bisa dikurangi, sehingga kita bisa melihat dasarnya. Pantulan di kaca bisa dikurangi, sehingga tidak mengganggu foto. Pantulan cahaya di siang terik bisa dikurangi, sehingga warna lebih ‘keluar’.

Tanpa CPL

CPL sangat membantu di siang terik, apalagi jika banyak obyek yang memantulkan cahaya matahari (misalnya tumbuhan). Sayangnya, CPL mempunyai efek gelap karena sebagian cahaya dihilangkan.

Dengan CPL, pantulan sinar matahari tidak membuat dedaunan jadi silau

Karena CPL berfungsi menyaring cahaya yang mempunyai derajat tertentu, maka filter ini kurang cocok digunakan dengan lensa wide. Lensa wide meng-cover sudut yang lebar, dan di dalam sudut yang lebar itu cahaya yang masuk akan mempunyai derajat yang berlainan. Karena itu, biasanya penggunaan CPL di lensa wide akan mengakibatkan hanya sebagian dari frame yang terkena efeknya, sehingga menjadi lebih gelap dari bagian sisanya.

4. Neutral Density (ND)

Fungsi satu-satunya dari filter ND adalah efek gelap yang dihasilkannya. Filter ND (yang bagus!) menggelapkan, tanpa mengubah atau mengurangi warna. Efek gelap ini memungkinkan kita untuk menggunakan shutter speed yang panjang di siang hari. Jika Anda pernah melihat foto landscape di mana airnya berubah menjadi halus seperti asap atau kabut, kemungkinan besar foto tersebut dibuat menggunakan shutter speed lama, dengan bantuan filter ND (dan/atau filter GND, yang akan dijelaskan setelah ini).

Ada beberapa varian filter ND, berbeda di derajat ke-gelap-annya. Yang sering digunakan orang adalah filter ND8, yang membuat cahaya yang lewat menjadi hanya seperdelapan aslinya (beda 3 stop; 8 = 2 pangkat 3). Dengan kata lain, Anda bisa menggunakan shutter speed 8 kali lebih lambat.

5. Gradual Neutral Density (GND)

Filter GND adalah varian dari filter ND. Bedanya, jika filter ND gelap di seluruh permukaannya, filter GND gelap hanya di sebagian permukaannya saja. Untuk apa, dan kapan kita perlu menggunakan filter GND? Filter GND digunakan di saat sebagian frame jauh lebih terang daripada bagian lainnya.

Seringnya, filter GND digunakan untuk pemotretan landscape. Bagian atas frame (di mana ada matahari) bisa digelapkan, sehingga kontras keseluruhan tidak terlalu tinggi. Selain itu, di saat sunset, filter GND memungkinkan menangkap matahari dengan exposure yang pas, tanpa harus menggelapkan bagian bawah frame terlalu banyak.

6. Coloring filter

Ada berbagai macam coloring filter, dari yang sederhana hingga yang bisa diputar untuk mendapatkan warna yang berlainan. Tujuan coloring filter satu, yaitu mewarnai cahaya yang masuk ke sensor.

Sayangnya saya kurang paham kelebihan menggunakan coloring filter dibandingkan pewarnaan dengan olah digital.

Memilih filter yang cocok

Saya tidak bisa mengatakan filter mana yang cocok bagi keperluan Anda. Itu sih Anda yang lebih tahu :) Yang saya bisa adalah mengingatkan Anda untuk membeli filter yang sesuai dengan lensa Anda.

Kebanyakan filter dipasangkan ke uliran yang ada di depan lensa Anda. Jika ukuran uliran filter dan lensa tidak cocok, maka filter tidak bisa dipasang. Sebelum membeli filter, Anda harus tahu lensa Anda mempunyai ukuran uliran berapa mm? Hal ini biasanya tertulis di lensa, di bagian depan, dengan simbol:

ø

Masalahnya, bagaimana jika kita mempunyai banyak lensa, dengan ukuran uliran yang berbeda-beda? Filter kan mahal!

Anda bisa mengakali hal ini dengan menggunakan step up ring. Step up ring (seperti juga step down ring) digunakan untuk mengubah ukuran uliran lensa. Satu sisi dipasangkan ke lensa, dan sisi satunya lagi mempunyai diameter yang berbeda. Step up ring mempunyai diameter yang lebih besar pada sisi luar.

Jika ada satu filter yang berharga cukup mahal, Anda cukup membeli filter tersebut dengan diameter cukup besar (misalnya, 77mm). Setelah itu, Anda beli step up ring yang memperbesar masing-masing lensa Anda menjadi 77mm. Jika Anda mempunyai 3 lensa berdiameter (misalnya) 52mm, 55mm, dan 67mm, maka Anda cukup perlu membeli step up ring 52-77, 55-77, dan 67-77. Filternya cukup beli satu. Kekurangannya, Anda akan lebih repot saat akan mengganti filter karena selain harus memasang/lepas filter juga harus memasang/lepas step-up ringnya.

Demikian yang bisa saya share mengenai filter. Ada yang kelupaan, atau ada yang perlu dikoreksi? Silakan meninggalkan komentar :)

8 responses to “Filter, untuk apa (saja)?

  1. Ping-balik: MEMAHAMI SPEK DAN ISTILAH-ISTILAH LENSA KAMERA DSLR | Thanks For Visit·

  2. Ping-balik: MEMAHAMI SPEK DAN ISTILAH-ISTILAH LENSA KAMERA DSLR | The Journey·

    • Ngga kok. Yang ga pake CPL lebih kontras, bagian daun yang kena matahari putih sekali, sedangkan yang kena bayangan gelap sekali. Yang pake CPL lebih merata, jadinya warna hijaunya juga lebih kentara :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s