Memotretlah seperti sedang mengarang…

A picture is worth a thousand words

Saya yakin kita semua familiar dengan perkataan di atas. Ya, sebuah gambar, sebuah foto, memang mampu menyampaikan apa yang dapat disampaikan oleh ribuan kata. Namun persamaannya tidak berhenti di situ.

1. Makna

Seperti juga kita bisa menyusun ribuan kata tanpa makna yang berarti, begitu juga dengan sebuah foto. Kita dapat menciptakan sebuah foto tanpa makna, tanpa tujuan. Tentunya hal ini bukan sesuatu yang kita inginkan, bukan? Karena itu, kita perlu selalu berusaha untuk memastikan bahwa elemen-elemen di dalam foto kita sengaja dipilih atau diatur untuk menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan.

Foto diciptakan dengan ‘menangkap’ suatu situasi di dunia nyata, lalu menyampaikannya secara visual. Karena itu, jika Anda membuat foto dengan maksud “saya ingin menunjukkan ini kepada Anda”, itu tidak cukup. Semua foto memang seperti itu: menunjukkan sesuatu. Anda harus bisa menyampaikan juga: “kenapa saya ingin menunjukkan ini kepada Anda”.

Apakah hal itu sesuatu yang unik, yang jarang dilihat?

Apakah itu sesuatu yang indah, yang enak untuk dilihat?

Apakah hal itu memancing/membangkitkan perasaan tertentu?

Dengan kata lain, jawaban dari pertanyaan “ini foto apa?” bukanlah obyek fotonya (kucing, misalnya), tapi apa yang ingin Anda perlihatkan dari atau dengan obyek foto tersebut. Maksud, atau tujuan Anda. Kelucuan kucingnya, mungkin. Atau cinta kasih yang ditunjukkan kucing itu pada anak-anaknya. Atau, bagaimana kucing itu terlihat menyeramkan. Bisa bermacam-macam (tergantung obyeknya dan cara Anda melihat). Tapi, itulah yang harus Anda sampaikan.

Kesulitannya di sini adalah di bagian “menyampaikan”. Saat melihat situasinya sebelum memotret, mungkin memang Anda tahu apa tepatnya yang membuat Anda ingin memotret. Tapi, apakah foto yang dihasilkan juga memuat (secara visual) hal yang ingin Anda sampaikan tersebut? Apakah keterangan tambahan masih dibutuhkan, melalui judul, misalnya, atau caption/keterangan yang mendampingi foto? Tidak salah juga sebenarnya, karena….

Seperti karya tulis, sebuah foto bisa berdiri sendiri dan memuat segala yang ingin disampaikan di dalamnya. Tapi sebuah foto bisa juga menjadi bagian dari suatu cerita yang lebih besar lagi. Foto essay, misalnya, secara keseluruhan menceritakan suatu cerita besar, didampingi dengan deskripsi tertulis. Jika kita hanya melihat fotonya saja, atau sebagian/satu fotonya, mungkin pesan yang didapat tidak sekuat jika kita membaca semuanya.

Namun, jika foto Anda dimaksudkan sebagai foto yang berdiri sendiri, perlu diketahui bahwa foto tersebut akan makin kuat jika tidak ada deskripsi tertulis yang dibutuhkan.

2. Kejelasan makna

Sebuah foto bisa seperti prosa, yang deskriptif mengantarkan maknanya tanpa banyak basa-basi. Jelas, mengena, transparan, dan tidak banyak dilapisi simbolisme. Sebuah foto bisa juga seperti puisi, yang susah dipahami dan mengandung makna yang harus digali lebih dalam terlebih dahulu.

Foto apaan ini?

Menyampaikan makna bukan berarti kita harus menyampaikannya secara blak-blakan. Ya, tentu saja maksud/tujuan yang disampaikan secara blak-blakan mempunyai nilai tambah tersendiri. Tapi foto yang harus diamati secara lebih teliti, atau yang mempunyai ‘surprise’ tersendiri setelah beberapa saat, juga mempunyai nilai tambah. Tidak ada aturan, pintar-pintarnya Anda memilih dan me’racik’ mana yang lebih ‘cocok’ menurut Anda :)

Selain itu, seperti juga karya tulis, setiap foto akan cenderung ‘memancing’ respon tertentu dari audiens. Tidak semua audiens bisa memberikan respon yang sama. Foto model yang cantik dan seksi, bisa (dan sepertinya kemungkinan besar memang) dinilai secara berbeda antara audiens pria dan wanita (dan bahkan antara pria yang berbeda-beda selera/tipenya). Tidak banyak yang bisa kita lakukan tentang ini, sih. Dimaklumi saja.

3. Isi vs. bungkus

Sebuah foto bisa mempunyai kelebihan di penyampaian yang berbunga-bunga dan indah, atau bisa juga mempunyai kelebihan di dalam/berat/telaknya makna yang disampaikan. Jika sebuah foto mampu melakukan keduanya sekaligus, maka foto tersebut hampir bisa dipastikan adalah foto yang luar biasa. (Jadi, judul “isi vs. bungkus” tidak terlalu tepat, karena keduanya tidak saling bertentangan. Tapi judul itu mampu menyampaikan maksud saya secara jelas dan tepat, yang merupakan inti dari artikel ini, hehe.)

Analogi “bungkus” di sini mungkin mudah untuk disamakan dengan “sesuatu yang dinikmati oleh mata”, sementara “isi” di sini lebih mudah untuk dianggap sebagai “sesuatu yang mengena dan mempunyai dampak secara emosi ataupun logika”.

Bingung?

Saya sadar bahwa semua ini mungkin terdengar terlalu rumit. Mau motret aja kok susah. Harus introspeksi dulu, maksud/tujuannya apa :) Tidak apa-apa. Semua orang sebenarnya mempunyai tujuan dalam setiap fotonya. Kalau tidak, tentunya orang itu tidak akan memotret! Yang perlu dilakukan hanya menjadi lebih sadar akan tujuan kita, dan berusaha memperkuat penyampaiannya. Itu saja.

Seorang fotografer yang lebih memilih untuk memotret apa saja yang ingin ia potret, tanpa analisis terlebih dahulu, tanpa berusaha untuk memasukkan lebih banyak kesengajaan dalam fotonya, bisa diibaratkan seorang penulis yang lebih memilih untuk langsung menerbitkan karyanya tanpa melalui proses editing terlebih dahulu.

Bisa dilakukan, dan saya yakin ada banyak fotografer ataupun penulis jenius yang sukses melakukan hal itu.

Tapi bagi saya, sepertinya belum di level tersebut, dan karena itu perlu berusaha untuk membuat foto yang lebih kuat. Dengan sengaja.

Bagaimana pendapat Anda? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s