Olah Digital, Part I: Mengapa Perlu?

Jadilah fotografer, bukan photoshopper. Saya setuju. Tapi, jadi fotografer bukan berarti sama sekali tidak menggunakan photoshop atau olah digital, sama seperti photoshopper bukan berarti sama sekali tidak memotret. Olah digital masih diperlukan. Kamera hanya mampu menghasilkan gambar dengan karakteristik tertentu saja. Agar foto makin mendekati keinginan kita, gunakanlah olah digital.

Tidak bisa disangkal, memang ada jenis/taraf penggunaan olah digital (oldig) yang kurang saya setujui dalam fotografi. Tahap-tahap oldig menurut saya:

– Oldig yang dilakukan untuk mengoptimalkan hasil jepretan kamera. Misalnya: brightness, contrast. Tool yang digunakan: levels, curve.

– Oldig yang mengubah foto keseluruhan. Misalnya: saturation (termasuk desaturation atau black & white), white balance/color balance, tinting (memberi tonal warna seragam pada foto, misalnya sepia), channel mixing, sharpness, dsb.

– Tool untuk mengubah brightness secara lokal menggunakan kuas, biasa disebut dodging (menambah brightness) atau burning (mengurangi brightness)

Foto ini diubah tonalnya menggunakan tool Channel Mixer

– Menghilangkan hal yang tidak diinginkan dari foto

– Menambah hal yang membuat foto lebih indah

– Menyunting (susun dan gunting) dan mengkombinasikan beberapa foto

Saya tidak mau menggunakan dua poin terakhir, agak bimbang dengan poin keempat (kalau porsinya sedikit masih oke). Poin pertama dan kedua sering saya gunakan, dan poin ketiga hanya saya gunakan untuk foto-foto yang membutuhkan sentuhan spesial saja :) Tentu saja, ini pendapat saya. Anda boleh berbeda.

Saya ingin menulis artikel tentang olah digital poin 1-3, karena menurut saya ini salah satu tahap fotografi yang lumayan mengubah hasil foto, terutama poin nomer satu yang hampir selalu saya gunakan. Karena topiknya sangat panjang, sepertinya tidak akan selesai dalam satu penulisan, akan ada Part II dan seterusnya….

Mengapa perlu olah digital? Mengapa tidak “alami” saja?

Mata kita berbeda dengan kamera. Perbedaannya bagaimana tepatnya, terlalu panjang untuk dijelaskan di sini (dan saya jujur saja tidak terlalu mengerti sih, selain fisiologi mata juga ada psikologi persepsi..). Tapi intinya adalah: bahkan dengan teknik pemotretan yang sempurna pun, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan seperti yang terlihat dengan mata kita, seringkali diperlukan olah digital. Jadi kalau mengejar fotografi yang “alami” pun ternyata seringkali membutuhkan oldig. Hasil foto langsung dari kamera justru belum tentu “alami”.

Olah digital pasti terjadi, di dalam atau di luar kamera.

Di dalam kamera pun kita sebenarnya sudah melakukan olah digital. Mau bagaimana lagi, datanya kan digital? Informasi yang ditangkap sensor (format RAW) harus diolah sehingga menjadi JPEG. Data yang sedemikian banyak harus dipilih mana yang akan ditampilkan sebagai JPEG. Di beberapa kamera, kita bahkan mempunyai pilihan pengolahan: sharpness, contrast, saturation, bahkan ada Picture Style. Jadi saya rasa oldig di kamera dan di komputer, sama saja, pasti terjadi, sengaja ataupun tidak. Dengan settingan yang tidak kita ubah pun tetap ada oldig untuk mengubah RAW menjadi JPEG.

Olah digital bisa memperkuat maksud dan tujuan.

Oldig, tentu saja, bisa digunakan untuk memperkuat foto. Menambah kontras, menghilangkan distraction, menonjolkan hal yang ingin ditonjolkan, menyampaikan mood, dan sebagainya.

Jika Anda ingin belajar bagaimana oldig dasar untuk foto, silakan baca Part II dari rangkaian tulisan ini.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s