Kesalahan/masalah yang sering terjadi (part I: focusing)

Dulu waktu saya pertama kali belajar fotografi, saya memotret tanpa tahu tepatnya bagaimana kamera bekerja. Lama-kelamaan, setelah saya mempelajari satu per satu teori dan teknik, mulai ada gambaran yang jelas bagaimana kamera bekerja. Sekarang, saya akan coba rangkumkan semuanya itu, agar lebih mudah dipahami.

Untuk apa? Apa perlunya mengetahui bagaimana cara kerja kamera? Sebenarnya tidak perlu-perlu amat sih, tapi bisa berguna untuk mengevaluasi apa yang “salah” ketika hasil foto Anda tidak sesuai dengan keinginan :)

Secara umum, apa yang terjadi saat kita memotret adalah sebagai berikut (detilnya akan dijelaskan belakangan):
1. Kita membidik obyek
2. Kita menekan tombol shutter setengah jalan (half-press), yang akan membuat kamera melakukan dua hal berikut:
– Autofocus: menentukan jarak fokus
– Auto exposure: menentukan segitiga exposure yang akan digunakan untuk memotret
3. Kita menekan tombol shutter full-press, yang akan membuat kamera mengambil gambar
4. Gambar tersebut akan diproses dan disimpan ke memory card

Kamera tua milik Sultan Hamengkubuwono IX

Kamera tua

Membidik Objek

Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari proses ini. Melalui viewfinder atau LCD, kita membidik obyek yang sedang kita pertimbangkan untuk dipotret.

Jika menggunakan viewfinder optis (seperti mayoritas DSLR), maka Anda melihat langsung ke obyek melalui beberapa elemen optis. Jika menggunakan viewfinder elektronik (seperti di Sony DSLT dan beberapa kamera mirrorless) atau LCD, maka Anda melihat tampilan elektronik dari apa yang ditangkap oleh sensor.

Troubleshooting

Hasil foto lebih besar daripada apa yang terlihat di viewfinder. Ini hal jamak di kamera-kamera DSLR entry level. Kebanyakan DSLR entry level mempunyai viewfinder yang mengcover hanya 95-96% dari foto yang dihasilkan. Jadi, jika kita menempatkan satu obyek tepat di sisi frame di viewfinder, maka di hasil foto akhirnya masih akan tetap ada sedikit space di antara obyek tersebut dan sisi frame. Hal ini normal, tenang saja :)

Ada kotoran yang terlihat saat membidik, tapi tidak terlihat di hasil akhir. Jika tidak terlihat di hasil akhir, berarti sensornya tidak kotor (hore!). Yang kotor palingan hanya mirror atau (seringnya sih) focusing screennya saja. Bisa coba dibersihkan dengan blower: tiup-tiup dengan blower bagian yang ingin dibersihkan, sambil lubang mount lensa dihadapkan ke bawah (jadi debu/kotoran yang terbang setelah ditiup akan jatuh ke bawah dan keluar dari kamera). Saya menyarankan untuk tidak mencoba membersihkan dengan apapun yang menyentuh focusing screen secara langsung (lap, cotton bud, dsb), karena kemungkinan besar malah akan membuat masalah lebih parah.

Ada kotoran yang terlihat di hasil akhir. Biasanya, kotoran ini akan terlihat semakin jelas jika memotret dengan aperture yang kecil (angka aperture yang besar), misalnya f/22. Kemungkinan besar ada kotoran di sensor. Cara membersihkan bisa dengan metode seperti di atas, hanya saja (jika kameranya DSLR) Anda harus mengunci mirrornya sehingga tidak menghalangi sensor, agar tiupan dari blower bisa langsung mengenai sensor. Baca manual untuk mencari tahu caranya. Sekali lagi: sangat disarankan untuk tidak mencoba membersihkan dengan menyentuh sensornya.

Autofocus

Banyak orang beranggapan bahwa kamera, atau lebih tepatnya: lensa, difokuskan di titik-titik tertentu. Hal ini kurang tepat. Lensa tidak bisa terfokus hanya pada titik tertentu saja, tapi pada bidang tertentu; semua titik yang terletak di bidang ini akan terlihat tajam. Bidang ini terletak tegak lurus dengan arah bidikan lensa; dengan kata lain, bidang ini sejajar dengan sensor. (Jika lensanya bagus, maka bidang ini adalah sebuah bidang datar.) Karena bidang ini sejajar dengan sensor, maka bisa dikatakan bahwa lensa difokuskan di jarak tertentu dari kamera. Bidang ini mempunyai ketebalan tertentu; bidang ini dinamakan ruang tajam/depth of field, dan dibahas lebih detil di artikel tentang bokeh.

Lensa difokuskan di jarak tertentu; hanya saja, jarak yang dipilih untuk memfokuskan lensa ini memang ditentukan berdasarkan titik-titik tertentu, yang disebut AF point: beberapa sensor AF yang ditempatkan di beberapa titik. Cara kerjanya adalah: sensor AF ini menentukan jarak fokus yang diperlukan agar benda di titik tersebut terlihat tajam.

Kita bisa menyalakan/menggunakan AF point hanya satu saja atau beberapa, seperti yang dijelaskan di artikel ini. Kita meletakkan AF point yang dinyalakan di titik yang kita ingin fokuskan, lalu half-press agar AF sensor bekerja dan kamera memfokuskan lensa.

Setelah itu, dengan masih menahan tombol shutter (half-press), kita bisa mengubah komposisi agar sesuai yang kita inginkan. Selama tombol shutter masih ditahan, maka fokus akan terkunci dan tidak akan berubah. Hal ini biasanya dilakukan jika dengan komposisi yang kita inginkan, obyek yang kita ingin fokuskan tidak terkena satu pun AF point yang menyala. Hal ini biasanya disebut dengan ‘lock and recompose‘.

Troubleshooting

Gambar tidak tajam sama sekali. Ada beberapa kemungkinan:
Satu, mungkin lensa tidak mampu menemukan kontras yang cukup untuk menentukan jarak fokus. Ini bisa disebabkan beberapa hal: pencahayaan yang kurang, obyek yang terletak di AF point tidak mempunyai kontras yang bisa dideteksi (kertas putih, misalnya, akan terlihat sama saat tajam dengan saat tidak tajam, karena sama-sama hanya terlihat putih polos), atau (sangat jarang terjadi) ada masalah di sensor AFnya. Jika autofocus gagal beroperasi (karena alasan apapun di atas), akan ketahuan karena AF confirmation tidak menyala.

Dua, mungkin tajamnya di bagian lain foto, tapi Anda tidak sadar. Ini biasanya terjadi saat menggunakan DOF yang tipis, dan (karena suatu sebab) fokus jatuh di tempat yang tidak kita inginkan. Solusinya akan diberikan troubleshooting berikutnya.

Tiga, mungkin ada masalah di lensa Anda, tapi ini jarang terjadi, terutama jika kamera/lensanya tergolong baru. Bagi pemula, saya cukup yakin, dua penyebab di atas lebih mungkin jadi biang keroknya, daripada masalah di lensa :) Oiya, mungkin juga Anda lupa mematikan mode macro, jadi fokus lensa masih dibatasi sangat pendek.

Gambar tajam di tempat yang berbeda dari yang kita inginkan. Ini sama dengan kemungkinan nomor dua dari masalah di atas. Bedanya, di sini Anda sadar bahwa fokus jatuh di tempat yang salah. Ada beberapa kemungkinan:
Satu, Anda menggunakan multiple AF point (dijelaskan di artikel yang linknya saya berikan di atas), dan kamera memilih AF point yang berbeda dari titik yang Anda ingin fokuskan.

Dua, Anda lupa meletakkan AF point di titik yang Anda ingin fokuskan. Cukup konyol, memang, tapi bisa terjadi jika kita terlalu fokus pada komposisi. Kemungkinan lain, jari Anda kepleset saat menahan half-press untuk recompose, sehingga kamera melepas kuncian fokus, dan akan mengunci fokus di tempat lain saat Anda akhirnya menekan shutter lagi.

Tiga, Anda menggunakan focus lock and recompose (seperti dijelaskan di atas), sedemikian sehingga titik yang Anda ingin fokuskan tidak terletak di bidang DOF. Ilustrasinya sebagai berikut:

Diagram melesetnya DOF

Meskipun diagram ini melebih-lebihkan derajat perputaran kamera saat recomposing, namun ilustrasi melesetnya DOF tergambar dengan baik

Dalam contoh ini, obyek yang ingin kita fokuskan akan terletak di sisi kiri frame di komposisi yang kita inginkan. Untuk focusing, kamera diarahkan sehingga obyek terletak di AF point tengah. Setelah fokus tercapai, dengan masih menahan tombol shutter, kita geser/putar kamera ke arah kanan (sehingga obyek bergeser ke arah kiri frame, seperti yang kita inginkan). Namun, perputaran ini mengakibatkan obyek keluar dari bidang DOF.

Hal ini cukup jarang terjadi karena, seperti terlihat di diagram, derajat perputarannya harus cukup besar, dan/atau DOFnya harus cukup tipis.

Tiga, AF point salah mengukur jarak yang diperlukan untuk memfokuskan titik tersebut. Ini bisa terjadi karena memang ada kerusakan, atau karena spesifikasi/performanya kebetulan kurang baik. Ini salah satu hal yang ditingkatkan kualitasnya di kamera-kamera tingkat atas, jadi memang ada batasan dalam performa/spesifikasi AF point di kamera kita (namanya juga barang buatan manusia) :)

Gambar tajam di tempat yang saya inginkan, tapi juga tajam di tempat yang ingin saya blur-kan. Seperti dijelaskan di atas, lensa akan terfokus pada sebuah bidang. Jika masalah ini terjadi, mungkin Anda perlu menipiskan bidang DOF tersebut (dibahas panjang lebar di artikel tentang bokeh), agar tempat yang ingin Anda blurkan tidak masuk bidang DOF. Atau, kemungkinan lain, tempat yang ingin Anda blurkan memang sebidang dengan tempat yang ingin Anda fokuskan. Tidak ada pilihan lain karena memang semua titik/tempat di bidang DOF akan terlihat tajam. Paling-paling bisa menggunakan olah digital untuk menambahkan blur. Pilihan lain, mengubah angle memotret sehingga tidak ada benda lain yang sebidang dengan objek.. Tapi inipun hanya memutar bidang tajamnya; semua titik yang terletak di bidang tersebut masih akan terlihat tajam, hanya letak titiknya saja yang berbeda karena bidang tajamnya diputar.

So far sampai sini dulu, nanti akan saya lanjutkan kalau ada waktu. Semoga berguna :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s