Fotografer “Profesional” vs. “Amatir”

Iseng-iseng nulis artikel lagi tentang aspek non-teknis dan non-motret. Seringkali kita menjumpai kata-kata “profesional” dan “amatir” digunakan untuk menjelaskan tingkat keahlian seseorang: yang “profesional” adalah seseorang yang ahli, sedangkan “amatir” adalah seseorang yang baru mulai belajar. Saya ingin mencoba melihat sisi lainnya.

Sebenarnya, dahulu kala, istilah “profesional” dan “amatir” digunakan bukan untuk menjelaskan tingkat keahlian, tapi menjelaskan alasan kenapa seseorang menekuni bidang tertentu. Seorang profesional, seperti kata dasarnya (profesi), adalah seseorang yang menekuni sesuatu sebagai mata pencahariannya, terlepas dari tingkat keahliannya. Seorang yang amatir, berasal dari kata dasar âme (jiwa) atau amour (cinta), adalah seseorang yang menekuni sesuatu sebagai hobi, sesuatu yang disuka atau dicinta, terlepas dari tingkat keahliannya.

Sekedar intermezzo saja ;)

Menurut definisi yang ini, apakah seseorang bisa menjadi profesional sekaligus amatir? Bisa, tapi mungkin tidak bersamaan. Seseorang yang hobi memotret, dan mempunyai mata pencaharian dari menjual foto-foto hasil jepretan hobinya, bisa menjadi seorang profesional dan amatir sekaligus. Di sisi lain, seseorang yang mempunyai mata pencaharian sebagai fotografer berdasar assignment, yang menuruti spesifikasi orang lain, akan menjadi profesional di saat bekerja, tapi mungkin kembali menjadi seorang amatir di saat libur atau tidak bekerja, memotret demi kepuasan pribadi.

Meskipun definisi ini sudah jarang digunakan, menurut saya masih berguna untuk memilah bentuk ketekunan seseorang dalam fotografi. Bukan untuk menghakimi atau menilai, namun agar kita bisa sadar sudut pandang orang tersebut dalam memandang fotografi.

Seorang amatir akan cenderung mengikuti selera pribadinya, dan lebih bebas membuat foto-foto yang tidak disukai orang banyak, misalnya. Sedangkan seorang profesional akan condong membuat (atau bahkan menyukai) foto-foto yang disukai orang banyak. Jika Anda melihat sebuah foto yang blurry, noisy, bahkan aneh, namun Anda tetap suka, kemungkinan besar itu adalah hasil dari seorang amatir. Jika Anda melihat sebuah foto yang tajam, bersih, kinclong, namun tidak membuat Anda merasakan apa-apa, mungkin foto tersebut dibuat dengan orientasi profesional.

Lalu kenapa? Entah :D Yang jelas ini sempat merupakan suatu pencerahan bagi saya.

Beberapa orang lebih condong ingin membuat foto yang bagus secara teknis, yang menunjukkan suatu obyek (hidup atau mati) dengan sebaik mungkin. Beberapa orang lebih condong ingin membuat foto yang bagus secara estetis, yang menonjolkan keindahan dan bahkan menyampaikan emosi, bahkan jika aspek teknisnya tidak begitu bagus (sengaja atau tidak).

Yang jelas, tipe manapun kita sekarang, ada baiknya kita ingat bahwa ada aspek lain dalam fotografi :)

Semoga berguna :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s