Gear Baru = Foto Lebih Jelek? (Tentang Memilih Obyek Foto)

(Artikel kali ini berangkat dari pertanyaan yang tercantum di judul. Namun, dalam menjawab pertanyaan tersebut, saya malah mendapat beberapa insight tentang bagaimana memilih obyek foto, dan bagaimana menjaga mindset untuk menjaga kualitas foto. Jadi, jika salah satu topik tersebut menarik bagi Anda, silakan baca terus walaupun Anda tidak peduli dengan gear!)

Kali ini saya sedang ingin berbagi pengamatan/pengalaman. Saya sudah lama curiga, sepertinya kok tiap kali saya hunting setelah membeli gear baru, hasil foto-foto saya kurang memuaskan ya? Makin ke sini, kecurigaan saya semakin terbukti. Setelah itu, yang jadi pemikiran saya adalah: KENAPA? Kok bisa, setiap hunting dengan gear baru hasilnya cenderung lebih jelek dari biasanya?

Apakah karena belum terbiasa menggunakan gear baru tsb? Sepertinya tidak juga, karena banyak gear saya yang (karena keterbatasan dana :P) hanya lensa manual produksi berpuluh-puluh tahun yang lalu, dengan FL sama-sama 50mm dan aperture max sama-sama berkisar f/1.8. Jadi, saya banyak mencoba gear yang mirip sekali cara penggunaan dan karakteristiknya dengan gear lama. Jelas, jawabannya bukan karena faktor kebiasaan. (Faktor kebiasaan ini lebih bermain ketika membicarakan kamera baru, misalnya, atau pertama kali mencoba menggunakan flash — yang sampai sekarang belum terbeli juga oleh saya :P).

Yang sampai sekarang menjadi alternatif penjelasan paling masuk akal adalah: ketika saya hunting dengan gear baru, saya mempunyai tujuan di kepala saya untuk mencoba gear baru tersebut, dan menjajal kemampuannya! Jadi, bukannya mencari obyek yang bagus untuk difoto, saya mencari obyek dan situasi yang bisa dipakai untuk mencoba kelebihan atau karakteristik baru dari gear saya tersebut.

Jika sedang mencoba lensa dengan bokeh yang terkenal indah, maka saya akan mencari obyek dengan latar belakang yang bagus untuk di-bokeh-kan, dan memotret obyek tersebut dengan angle dan segitiga exposure yang menghasilkan bokeh se-bokeh-bokeh-nya. Pokoknya mantab gan.

Atau ketika sedang mencoba lensa dengan gradasi tonal  yang katanya “3D banget”, mata saya akan mencari-cari benda dengan bentuk dan lighting yang pas untuk sebisa mungkin menghasilkan efek 3D.

Contoh foto yang saya jepret (hanya) untuk mencoba ketajaman lensa baru >_< Lensanya memang tajam sih, tapi fotonya biasa-biasa saja..

Tapi lalu di rumah saya kecewa melihat hasil foto-foto yang begitu-begitu saja, standar, hanya di-skip dan tidak di-copy ke laptop (saya tinggalkan foto yang jelek di SD card untuk kemudian di-format, agar tidak memenuhi laptop). Atau, lebih parah lagi, terkadang saya terbawa emosi dan menyukai foto tersebut, saya edit dan upload ke Flickr.. Beberapa kemudian saya lihat photostream di Flickr saya dan berpikir, “ngapain ni foto waktu itu gue upload, ya? Biasa banget gini..” Misalnya, foto elang yang saya pajang di atas..

Dari situ saya belajar, bahwa saat kita hunting, jika benar-benar ingin menghasilkan foto yang bagus, maka hal nomor satu yang harus ada di kepala kita adalah: menghasilkan foto yang bagus! (Catatan: tentu saja dengan tetap menggunakan akal sehat.. Tetap melihat kanan-kiri dulu sebelum menyeberang jalan, sadari keadaan sekeliling Anda, dan pastikan tutup botol Pulpy Orange sudah tertutup rapat lagi sebelum dikocok..)

Jika yang ada di kepala kita adalah mencoba sesuatu, atau mempraktekkan sesuatu, maka hasilnya tidak akan maksimal. Kenapa? Karena obyek yang Anda foto belum tentu optimal difoto menggunakan “sesuatu” yang ingin Anda coba tersebut! Saya jadi ingat waktu pertama kali mempunyai lensa 50mm. Semua harus ber-bokeh. Foto saya sebisa mungkin mem-bokeh. Lihat foto di internet, kalau tidak bokeh saya tidak suka! Padahal belum tentu obyek tersebut paling bagus jika di-bokeh-kan. Seringkali, DOF jadi terlalu tipis dan bagian yang penting juga jadi blur. Hasilnya, foto tidak maksimal. Masih bisa lebih bagus sebenarnya, jika tidak terpaku pada bokeh. Belum lagi memaksaka memotret semua hal menggunakan FL 50mm..

Hal ini membuat saya jadi introspeksi, batasan-batasan apa yang saya kenakan pada mata saya sendiri? ISO harus di bawah 800, agar noise tidak terlalu banyak? Padahal mungkin noise bisa ditolerir asal momen tertangkap dengan tepat.. Atau foto harus sharp dan fokusnya tepat? Tidak juga. Pernah saya malah memberikan efek blur pada suatu foto menggunakan olah digital, karena saya ingin memberikan kesan jadul, dan ketajaman malah justru mengurangi ke-jadul-annya.. (Blurnya memang tidak banyak, hanya 3 pixel di sebuah foto dengan dimensi ribuan kali ribuan pixel..)

Sekarang, saat hunting, saya mencoba menjaga mindset yang terbuka untuk melihat semua kemungkinan, tanpa terkungkung oleh batasan-batasan yang saya kenakan sendiri.

Bokeh, ketajaman, 3D, atau “bumbu” lainnya, simpan saja di rak dapur kecuali memang diperlukan untuk be beautiful, be meaningful, or be different :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s