Kesalahan/masalah yang sering terjadi (part II: auto exposure)

Artikel ini adalah lanjutan artikel part I. Kali ini yang akan dibahas adalah permasalahan yang sering terjadi dalam hal exposure (gelap/terangnya foto). Semoga berguna :)

Exposure

Pertama-tama, apa itu exposure?

Exposure, kata dasarnya adalah expose (memaparkan). Fotografi adalah proses merekam cahaya yang terpapar ke sensor. Istilah exposure sendiri bisa mengacu ke beberapa hal:

1. Peristiwa pemaparan cahaya ke sensor. Jarang digunakan, karena memang jarang yang membahas peristiwa pemaparan cahaya ke sensor (yang notabene hanya terjadi selama sepersekian detik, tergantung shutter speed yang Anda gunakan). Tapi, tetap bisa Anda temui di bahan-bahan bacaan tentang fotografi, terutama yang berbahasa Inggris.

2. Intensitas cahaya yang terpapar ke sensor. Sebenarnya hal ini masih kurang tepat, karena dalam pengertian ini, selain mengacu ke intensitas cahaya yang terpapar ke sensor, seringkali sensitifitas sensor (disebut dengan ISO) juga ikut terlibat. Hal ini mempengaruhi gelap/terangnya hasil foto. Jika intensitas cahaya kurang, maka foto akan terlihat gelap; jika intensitas cahaya berlebihan, maka foto akan terlihat terang/putih. Exposure dalam pengertian ini dipengaruhi oleh tiga hal (yang sering disebut segitiga exposure): shutter speed, aperture, dan ISO.

Artikel ini akan membahas pengertian nomor dua, tapi perlu diperhatikan juga saat membaca bahan bacaan lain, mungkin saja pengertian pertama yang dimaksudkan. Saya infokan sekedar agar Anda tidak bingung saja :)

Auto Exposure

Saat kita menekan tombol shutter setengah jalan, maka kamera akan melakukan autofocus (dibahas di artikel part I) dan autoexposure. Saat melakukan auto exposure, maka kamera akan “membaca” isi frame lalu menentukan segitiga exposure yang diperlukan untuk memotret isi frame tersebut dengan brightness yang netral. Proses membaca dan menentukan ini sering disebut juga sebagai metering.

Perlu diperhatikan bahwa kamera akan melakukan metering dengan tujuan memotret dengan brightness yang netral. Apa maksudnya netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama perlu dipahami bahwa kamera tidak bisa membedakan warna putih dan warna hitam. Jika brightness terlalu gelap, maka warna apapun bisa terlihat jadi hitam. Jika brightness terlalu terang, maka warna apapun bisa terlihat jadi putih. Jadi, kamera tidak bisa membedakan tembok polos berwarna putih dengan tembok polos hitam.

Lalu apa yang dilakukan kamera jika dihadapkan pada tembok polos? Proses metering akan dilakukan dan segitiga exposure akan dipilih untuk memotret tembok tersebut sehingga berwarna abu-abu. Ini mengapa saya sebut “netral”.

Tidak percaya? Coba set kamera Anda di mode P, lalu arahkan kamera ke tembok putih polos, dan jepret. Hasilnya akan cenderung lebih kusam/gelap dari tembok yang ada di depan Anda sekarang. Begitu pula jika kamera diarahkan ke obyek berwarna hitam (karena tembok berwarna hitam cukup jarang, Anda bisa coba arahkan ke tas atau jaket); hasil foto akan lebih terang, sehingga tas/jaket akan terlihat berwarna abu-abu.

Karena itu, maka metering akan cenderung lebih bisa dipercaya jika isi frame terdiri dari berbagai macam warna dan tingkat kecerahan; dengan demikian, kamera bisa membandingkan masing-masing tingkat kecerahan tersebut dan mengenali “oh, yang ini lebih gelap dari yang lainnya, sepertinya warnanya hitam” dan memilih segitiga exposure yang lebih sesuai.

Untuk lebih memahami metering, Anda mungkin ingin membaca artikel yang membahas metering.

Troubleshooting

Hasil foto lebih gelap/terang daripada yang kita inginkan. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal:

1. Cek lagi obyek foto Anda. Jika warna putih (atau sumber/pantulan cahaya) mendominasi, maka hasilnya akan cenderung lebih gelap dari yang diinginkan. Jika warna gelap (atau bayangan) mendominasi, maka hasilnya akan cenderung terlalu terang. Anda bisa melakukan penyesuaian dengan menggunakan Exposure Compensation atau mengubah metering yang digunakan agar metering dilakukan berdasarkan daerah-daerah tertentu saja.

2. Mungkin segitiga exposurenya sudah mentok. Jika Anda memotret obyek yang terlalu terang, misalnya, maka mungkin saja walaupun shutter speed sudah paling cepat, aperture sudah paling kecil, dan ISO sudah paling kecil, namun tetap saja intensitas cahaya yang masuk terlalu terang. Apalagi jika Anda mematok salah satu (atau lebih) segitiga exposure (misalnya, Anda mematok aperture dan ISO, sehingga kamera hanya bisa mengatur shutter speednya saja).

Sementara cukup sekian dulu, akan saya tambahkan kalau ada yang kurang. Silakan mengajukan pertanyaan atau komentar atau kritik :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s