Fotografer bukan hanya kameraman

Ya, fotografer memang juga adalah seorang kameraman. Tapi jauh lebih dari itu. Kameraman adalah seseorang yang jago menggunakan kamera. Mengatur dan memilih settingan yang pas, sehingga hasilnya bagus (paling tidak secara teknis). Sedangkan fotografer adalah seseorang yang menciptakan foto. Yang indah. Bukan hanya ‘benar’ secara teknis, tapi juga enak dilihat. Dan/atau bermakna. Dan/atau unik.

Tanpa bermaksud merendahkan, saya banyak melihat pemula fotografi yang terlalu terpaku pada hal-hal teknis. Lewat artikel ini saya ingin menyampaikan sudut pandang saya, bahwa menciptakan foto yang bagus itu jauh lebih penting daripada menguasai kamera. Tentu saja, pendapat Anda boleh saja berbeda :)

Sebenarnya, yang sering diributkan oleh fotografer adalah segitiga exposure: ISO, aperture, shutter speed. Karena itu, ketika saya mengatakan “hal teknis” di sini, yang terpikir oleh saya terutama adalah masalah segitiga exposure. Tapi tentu saja, secara umum, hal-hal teknis lain juga berlaku.

Hal-hal teknis hanya cara, bukan tujuan

Bayangkan jika Beethoven terlalu mementingkan cara menyetem pianonya. Apakah seteman tidak penting? Tentu saja penting! Kalau piano di-setem fals, maka musik yang keluar pun akan fals. Tapi kehebatan seorang Beethoven bukan di seteman pianonya, pun bukan karena kehebatan ia memainkan piano, tapi karena keindahan lagu yang diciptakannya!

Hal-hal teknis memang penting, tapi hanya sebagai cara mencapai tujuan. Bukan tujuannya. Coba, kalaupun sudah bisa menguasai kamera dengan sempurna pun, apa berarti foto kita akan jadi bagus? Belum tentu! Seperti juga piano yang disetem dengan sempurna pun belum tentu menghasilkan musik yang enak didengar :)

Jadi, jangan terlalu terfokus untuk belajar hal teknis. Apalagi pakai mode manual saat belajar. Buang-buang waktu, tenaga, dan perasaan. Gunakan mode lainnya dulu.

Hal teknis memang lebih mudah dipelajari

Salah satu hal yang menurut saya membuat pemula fotografi banyak terfokus di aspek teknis adalah karena aspek teknis mudah dipelajari. Lho, mudah gimana? Sulit kok!

Ya, saya setuju. Aspek teknis memang tidak mudah. Untuk mengerti dan memahami segitiga exposure pun saya dulu kesulitan. Tapi kita jelas tahu apa saja yang harus dilakukan. Atur shutter speed. Atur aperture. Atur ISO. Tiga hal, itu saja. Selain itu, feedbacknya pun mudah: apakah gambarnya terlalu gelap atau terlalu terang? Jelas terlihat, mudah sekali.

Lain halnya dengan aspek keindahan. Bagaimana komposisi yang bagus? Apakah komposisi yang ini lebih bagus daripada komposisi yang itu? Bagaimana dengan warnanya, apakah lebih bagus seperti ini atau dibuat lebih kental lagi? Apakah bokehnya pas, atau terlalu ngeblur? Banyak keputusan yang harus diambil, dan feedbacknya pun semua relatif. Yang menurut kita lebih bagus, orang lain mungkin menganggap kurang bagus.

Tapi memang seperti itulah seni dan keindahan. Kita harus mempunyai visi sendiri :)

Buatlah foto yang indah. Menurut Anda :)

Hal teknis tidak untuk dihafalkan, apalagi ditiru

Kita tidak bisa memukul rata “bagaimana settingan untuk memotret di kondisi X?” atau “bagaimana settingan untuk memotret objek Y?”. Kenapa? Karena hal teknis akan menyesuaikan dengan:
1. Kondisi di tempat dan waktu pemotretan, terutama kuantitas pencahayaan
2. Visi sang fotografer tentang karakteristik foto yang ingin direalisasikan sebagai hasil akhirnya

Tidak ada settingan tertentu untuk memotret di outdoor, misalnya. Atau settingan untuk memotret di indoor. Keterangan ‘outdoor’ dan ‘indoor’ tidak berarti apa-apa. Apakah outdoor pasti lebih terang daripada indoor? Belum tentu. Bahkan sesama kondisi ‘outdoor’ pun bisa membutuhkan settingan (tepatnya: segitiga exposure) yang berbeda, jika ada awan yang lewat, dibandingkan dengan jika matahari sedang terik.

Begitu juga, pertanyaan “bagaimana memotret model?” tidak bisa dijawab dengan jelas, karena tergantung kondisi pemotretan dan visi sang fotografer. Apakah ingin membuat high key? Low key? Apakah ingin dreamy? Atau suram? Masing-masing akan membutuhkan settingan yang berbeda :)

Bagaimana dengan meniru? Apakah settingan bisa ditiru? Bisa, asal hanya aspek-aspek tertentunya saja, bukan settingan secara keseluruhan. Jika Anda ingin meniru suatu efek/bumbu fotografi, maka Anda bisa meniru aspek teknis yang digunakan untuk membuat efek/bumbu tersebut (tentu saja, pastikan dulu bahwa efek/bumbu tersebut disebabkan aspek teknis, bukan aspek nonteknis). Dan yang paling penting: ingat bahwa hal teknis hanya bisa meniru efek/bumbunya saja. Foto yang Anda hasilkan belum tentu sebagus foto aslinya, tapi di sisi lain juga bisa lebih bagus. Kebagusan suatu foto, seperti juga suatu masakan, tidak hanya tergantung pada bumbunya saja, tapi juga bahan utama dan resepnya :)

Belajarlah secara efisien, tempatkan teknik pada tempatnya

Saya bukannya melarang atau mengkritik pembelajaran teknis. Bagaimanapun juga, aspek teknis memang perlu. Tapi, apakah itu investasi terbaik bagi waktu dan tenaga kita? Saya rasa tidak. Hal teknis menurut saya perlu dipelajari secara bertahap dan otomatis.

Bertahap, karena memang tidak perlu dipelajari dari awal. Kamera di jaman modern ini mampu memilihkan settingan untuk kita secara otomatis. Seperti yang saya tulis di artikel yang linknya sudah saya berikan di atas, saya menyarankan membiarkan kamera memilih untuk kita, kecuali kita membutuhkan settingan yang lain.

Otomatis, karena skill teknis menurut saya sebaiknya dipelajari sebagai cara untuk menembus batasan. Ketika kita ingin menciptakan nuansa tertentu dalam foto, namun belum bisa, maka kita otomatis akan ingin mempelajari aspek teknis yang dibutuhkan. Misalnya, ketika kita merasa bahwa foto-foto yang kita buat mempunyai tone yang terlalu biru; kita ingin membuat foto dengan tone yang lebih hangat. Maka, kita belajar tentang white balance, dan mulai menggunakan pilihan-pilihan white balance yang ada, beralih dari Auto White Balance.

Ini pendapat saya, bagaimana menurut Anda? :)

8 responses to “Fotografer bukan hanya kameraman

  1. foto human interest better using monochrom collor scene
    photo landscape “bukan suasana dlm kota” better using full collor scene

    give me 1.000.000 USD if i m wrong
    or just smile and reply if i m right

    lol…

    • Betul kok.. (Biar ga usah bayar) Tapi ga sesimpel itu.. Hehehe..

      Buat saya warna ato B&W itu kembali ke apa yang ingin ditonjolkan.. Kalau warna tidak menambah nilai malah saya mendingan B&W saja, mau foto apapun itu, bahkan foto model sekalipun :)

      Wah, bisa jadi materi buat nulis artikel nih.. Lama vakum posting hahahaha..

      Keep commenting om! Biar rame! :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s